Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah bebarapa waktu bukan kanak-kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini
Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak bisa terucap
Sebelum pada akhirnya kita menyerah
Derai-Derai Cemara-1949
Mata menatap murung dengan dua jari tangan menjepit rokok yang tegah diisap, itulah visual khas seorang Chairil Anwar. Sastrawan “Pujangga Baru”, terlahir di Medan, Sumtara Barat pada 22 Juli 1922 dari pasangan suami-istri, Tulus dan Salihah. Ia mengenyam pendidikan model Belanda, Neutrale Hollandsch Inlandsche School (HIS) ditanah kelahirannya Medan. Setamat HIS, ia melanjutkan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwij (MULO). Namun tidak sampai lulus, hal ini dipicu karena ayahnya menikah lagi dan meninggalkan ibu kandungnya.
Kedatangan Jepang juga menyebabkan hidupnya tak menentu. Namun, meski ia tidak tamat sekolah dasar MULO Chairil yang memang cerdas telah menguasai tiga bahasa asing (Inggris, Jerman dan Belanda), itu cukup menjadi modal hidupnya untuk tidak menjadi katak dalam tempurung. Saat usianya memasuki 20 tahun 3 bulan, atau tepatnya bulan Oktober 1942, Chairil mulai menulis sajak pertamanya. Rasa duka atas kepergian sang nenek untuk selama-lamanya telah memberikan inspirasi Chairil untuk menciptakan sajak yang khusus ditujukan kepada neneknya, sebagimana tercuplik dalam sajak cekak :
Nisan
Untuk nenekanda
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak tau setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertakhta
Terlepas dari sajak-sajaknya yang melegenda, dalam setiap kurikulum pendidikan, khususnya dalam bidang studi Bahasa Indonesia dan Sastra, nama Chairil Anwar tidak pernah absen dibicarakan. Kritikus nomor wahid Sastra Indonesia modern, H.B Jassin, tidak salah jika menasbihkan Chairil sebagai sastrawan “Pelopor Angkatan 45”, sebuah identitas yang kemudian ditorehkan di atas nisannya.
Sampai detik ini sajak-sajaknya tidak pernah lapuk, meski berbagai khazanah kesusastraan mutahir bermunculan dengan berbagai kredo kepenyairan. Salah seorang Begawan Sastra Indonesia, Soetarji Calzoum Baghri, pernah mendudukkan Chairil dalam kursi Presiden Penyair Indonesia. Sajak-sajak Choiril memang mempunyai sugesti yang sangat kuat. Sehingga dalam proses kesusastraan Indonesia, sajak-sajaknya mampu menembus sekat-sekat kepenyairan dan dalam istilah S. Otong, ia bisa membuka kemungkinan pengembaraan kreatifitas yang paling mustahil sekalipun.
Karya (besar) Ghairil
Dalam proses kepenyairannya ia pernah membawa seberkas sajak untuk dimuat di Panji Pustaka, yang redakturnya merupakan wakil suara pemerintahan Jepang, namun sayang sajak-sajaknya ditolak. Dikatakan bahwa sajak-sajaknya individualis. Kiasan-kiasanya terlalu berat. Dalam sajaknya Chairil adopsi kiasan-kiasan seperti “Ahasverson,” padahal ada “langlang Buana” dalam hikayat Indonesia. Kemudian memakai kiasan “Eros” untuk mengganti “Rama/Ratih” sebagai kiasan Dewi Cinta.
Jepang dengan romantisme ketimurannya menolak. Kata redakturnya “kita harus kembali ketimur”. Namun demikian, Chairil bisa dikatakan sebagai tokoh revolusioner dalam persajakan Indonesia sejamannya. Ia tidak sungkan-sungkan melakukan kritikan terhadap bentuk “sajak lama, termasuk sajak pujangga baru”. Ia mengemukakan sajak-sajak baru adalah sajak-sajaknya sendiri yang revolusioner bentuk dan isinya yang meledak-ledak, seperti dalam sajak “penerima”.
Kalau kau mau kuterima kau kembali
D engan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari yang sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku kalau berani
Kalu kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi
Jadi, pada awalnya, sajak-sajak Chairil Anwar ditolak karena individulaisnya yang justru merupakan ciri khas sajak-sajaknya. Individualis dalam sajak Chairil Anwar bukanlah “Individualis” dalam arti cermin kehidupan Chairil sendiri. Malahan sajak-sajak Chairil diamini memberi udara baru yang segar bagi kesusastraan Indonesia. Individualitasnya dalam konteks ini merupakan pemberontakan terhadap kekuasaan sutu negara yang tidak memberi kebebasan untuk berfikir, pun dalam seni dan budaya.
Namun sayangnya, Chairil Anwar dalam proses kepenyairannya tidak berlangsung lama, karya-karya monumentalnya-pun, terbit setelah kematianyya. Seperti kumpulan sajaknya yang diberi judul “Deru Campur Debu”, (1949), dalam tahun yang sama disusul terbitnya 32 sajak Chairil yang dihimpun dalam “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus”. Pada tahun berikutnya 1950, diterbitkan kumpulan sajak Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rival Apin yang diberi judul “Tiga Menguak Takdir”. Selanjutnya diterukan oleh HB Jassin yang melengkapi sajak-sajak Chairil yang belum dipublikasikan dalam kumpulan sajak sebelumnya di dalam bukunya “Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45”.
Tak Sampai Seribu Tahun
Tanggal 23 Aprli 1949, merupakan hari-hari yang sulit dilewati bagi Chairil Anwar. Ia diopname di CBZ (sekarang RSCM), karena penyakit yang mengerogoti tubuhnya. Ia menderita penyakit paru-paru dan infeksi darah kotor. Penyakit usus semakin memperburuk kondisisnya, hingga mendekatkan pada kematiannya. Tanggal 28 April 1949 pukul 14.30, merupakan hari berkabung bagi para sastrawan sezamanya. Chairil Anwar menghebuskan nafas terakhir. Mungkin ini yang dicita-citakan dalam penggalan sajak “Aku Bintang Jalang”, “aku, bila waktuku, tak seorangpun menggangu”, itu telah terkabulkan walaupun tak sampai seribu tahun lamanya. Ia dikuburkan di Pekuburan Karet, Jakarta.
Persis seperti ia telah abadikan sebelumnya dalam penggalan sajak:
“Yang Terampas dan Yang Putus”: di Karet, di Karet (daerahku y.a.d)/ sampai juga deru angin”.
Itulah sosok sastarawan refolusioner yang memapu memberikan pemikiran dalam menjawab tantangan jamannya. Chairil Anwar adalah personifikasi dari keberanian untuk menjadi subyek dalam sebuah proses perubahan panjang dan global. Juga bagian dari simbolisasi dari kekuatan kreatifitas umat manusia dan simbol yang mampu memperlihakan bahwa hidup manusia memang terbatas, akan tetapi pikiran dan karyanya dapat melintasi jaman.
Oleh : Muh. Muhlisin
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah bebarapa waktu bukan kanak-kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini
Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak bisa terucap
Sebelum pada akhirnya kita menyerah
Derai-Derai Cemara-1949
Mata menatap murung dengan dua jari tangan menjepit rokok yang tegah diisap, itulah visual khas seorang Chairil Anwar. Sastrawan “Pujangga Baru”, terlahir di Medan, Sumtara Barat pada 22 Juli 1922 dari pasangan suami-istri, Tulus dan Salihah. Ia mengenyam pendidikan model Belanda, Neutrale Hollandsch Inlandsche School (HIS) ditanah kelahirannya Medan. Setamat HIS, ia melanjutkan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwij (MULO). Namun tidak sampai lulus, hal ini dipicu karena ayahnya menikah lagi dan meninggalkan ibu kandungnya.
Kedatangan Jepang juga menyebabkan hidupnya tak menentu. Namun, meski ia tidak tamat sekolah dasar MULO Chairil yang memang cerdas telah menguasai tiga bahasa asing (Inggris, Jerman dan Belanda), itu cukup menjadi modal hidupnya untuk tidak menjadi katak dalam tempurung. Saat usianya memasuki 20 tahun 3 bulan, atau tepatnya bulan Oktober 1942, Chairil mulai menulis sajak pertamanya. Rasa duka atas kepergian sang nenek untuk selama-lamanya telah memberikan inspirasi Chairil untuk menciptakan sajak yang khusus ditujukan kepada neneknya, sebagimana tercuplik dalam sajak cekak :
Nisan
Untuk nenekanda
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak tau setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertakhta
Terlepas dari sajak-sajaknya yang melegenda, dalam setiap kurikulum pendidikan, khususnya dalam bidang studi Bahasa Indonesia dan Sastra, nama Chairil Anwar tidak pernah absen dibicarakan. Kritikus nomor wahid Sastra Indonesia modern, H.B Jassin, tidak salah jika menasbihkan Chairil sebagai sastrawan “Pelopor Angkatan 45”, sebuah identitas yang kemudian ditorehkan di atas nisannya.
Sampai detik ini sajak-sajaknya tidak pernah lapuk, meski berbagai khazanah kesusastraan mutahir bermunculan dengan berbagai kredo kepenyairan. Salah seorang Begawan Sastra Indonesia, Soetarji Calzoum Baghri, pernah mendudukkan Chairil dalam kursi Presiden Penyair Indonesia. Sajak-sajak Choiril memang mempunyai sugesti yang sangat kuat. Sehingga dalam proses kesusastraan Indonesia, sajak-sajaknya mampu menembus sekat-sekat kepenyairan dan dalam istilah S. Otong, ia bisa membuka kemungkinan pengembaraan kreatifitas yang paling mustahil sekalipun.
Karya (besar) Ghairil
Dalam proses kepenyairannya ia pernah membawa seberkas sajak untuk dimuat di Panji Pustaka, yang redakturnya merupakan wakil suara pemerintahan Jepang, namun sayang sajak-sajaknya ditolak. Dikatakan bahwa sajak-sajaknya individualis. Kiasan-kiasanya terlalu berat. Dalam sajaknya Chairil adopsi kiasan-kiasan seperti “Ahasverson,” padahal ada “langlang Buana” dalam hikayat Indonesia. Kemudian memakai kiasan “Eros” untuk mengganti “Rama/Ratih” sebagai kiasan Dewi Cinta.
Jepang dengan romantisme ketimurannya menolak. Kata redakturnya “kita harus kembali ketimur”. Namun demikian, Chairil bisa dikatakan sebagai tokoh revolusioner dalam persajakan Indonesia sejamannya. Ia tidak sungkan-sungkan melakukan kritikan terhadap bentuk “sajak lama, termasuk sajak pujangga baru”. Ia mengemukakan sajak-sajak baru adalah sajak-sajaknya sendiri yang revolusioner bentuk dan isinya yang meledak-ledak, seperti dalam sajak “penerima”.
Kalau kau mau kuterima kau kembali
D engan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari yang sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku kalau berani
Kalu kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi
Jadi, pada awalnya, sajak-sajak Chairil Anwar ditolak karena individulaisnya yang justru merupakan ciri khas sajak-sajaknya. Individualis dalam sajak Chairil Anwar bukanlah “Individualis” dalam arti cermin kehidupan Chairil sendiri. Malahan sajak-sajak Chairil diamini memberi udara baru yang segar bagi kesusastraan Indonesia. Individualitasnya dalam konteks ini merupakan pemberontakan terhadap kekuasaan sutu negara yang tidak memberi kebebasan untuk berfikir, pun dalam seni dan budaya.
Namun sayangnya, Chairil Anwar dalam proses kepenyairannya tidak berlangsung lama, karya-karya monumentalnya-pun, terbit setelah kematianyya. Seperti kumpulan sajaknya yang diberi judul “Deru Campur Debu”, (1949), dalam tahun yang sama disusul terbitnya 32 sajak Chairil yang dihimpun dalam “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus”. Pada tahun berikutnya 1950, diterbitkan kumpulan sajak Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rival Apin yang diberi judul “Tiga Menguak Takdir”. Selanjutnya diterukan oleh HB Jassin yang melengkapi sajak-sajak Chairil yang belum dipublikasikan dalam kumpulan sajak sebelumnya di dalam bukunya “Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45”.
Tak Sampai Seribu Tahun
Tanggal 23 Aprli 1949, merupakan hari-hari yang sulit dilewati bagi Chairil Anwar. Ia diopname di CBZ (sekarang RSCM), karena penyakit yang mengerogoti tubuhnya. Ia menderita penyakit paru-paru dan infeksi darah kotor. Penyakit usus semakin memperburuk kondisisnya, hingga mendekatkan pada kematiannya. Tanggal 28 April 1949 pukul 14.30, merupakan hari berkabung bagi para sastrawan sezamanya. Chairil Anwar menghebuskan nafas terakhir. Mungkin ini yang dicita-citakan dalam penggalan sajak “Aku Bintang Jalang”, “aku, bila waktuku, tak seorangpun menggangu”, itu telah terkabulkan walaupun tak sampai seribu tahun lamanya. Ia dikuburkan di Pekuburan Karet, Jakarta.
Persis seperti ia telah abadikan sebelumnya dalam penggalan sajak:
“Yang Terampas dan Yang Putus”: di Karet, di Karet (daerahku y.a.d)/ sampai juga deru angin”.
Itulah sosok sastarawan refolusioner yang memapu memberikan pemikiran dalam menjawab tantangan jamannya. Chairil Anwar adalah personifikasi dari keberanian untuk menjadi subyek dalam sebuah proses perubahan panjang dan global. Juga bagian dari simbolisasi dari kekuatan kreatifitas umat manusia dan simbol yang mampu memperlihakan bahwa hidup manusia memang terbatas, akan tetapi pikiran dan karyanya dapat melintasi jaman.
Oleh : Muh. Muhlisin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar