Post Top Ad

Post Top Ad

Jumat, 08 Maret 2013

Belajar Menjaga Kelangkaan Air Dari Kearifan Lokal



Banyak konflik di dunia ini disebabkan atau dipicu oleh kelangkaan air. Konflik-konflik yang terjadi diberbagai belahan negara, misalnya di chad sampai Darfur, Sudan, Gurun Oaden, dan Ethiopian, Sumeria dan perompaknya, serta Yaman, Irak, Pakistan, Afganistan, semuanya terletak di busur besar kawasan yang gersang. Dimana tempat-tempat seperti itu yang menyebabkan gagal panen, matinya ternak, kemiskinan ekstrim, dan keputus asaan.

Masalah air ini sangat kursial, dan tidak akan bisa hilan begitu saja. Sebaliknya ia akan memburuk kecuali, kita sebagai masyarakat, memberi respon positif. Serangkaian studi yang dilakukan baru-baru ini menunjukkan betapa rapunya keseimbangan air dibanyak belahan dunia yang mengakibatkan kemiskinan ekstrim. UNESCO baru-baru ini menerbitkan The Un Word Wate deelopment report 2009, dan Asia society menerbitkan telaah mengenai krisis air di Asia “Asia’s Next challenge : Scuring the region’s Water Future”. Semua persoalan menceritakan hal yang sama. Pasokan air semakin berkurang dibanyak bagian dunia, terutama kawasan yang gersang. 

Kelangkaan air ini mencerminkan membengkaknya populasi menipisnya air tanah, meningkatnya limbah dan populasi serta dampak dari perubahan cuaca. Konsekuensi yang sangat mengerikan: kekeringan dan kelaparan, hilangnya mata pencaharian, menyebarkan penyakit bawaan air, migrasi yang terpaksa. Solusi parktisnye bisa menyakup banyak komponen, termasuk manajemen air yang lebih baik, tehnologi yang lebih guna efesien pemakian air serta serta inestasi baru yang dilakukan bersama dengan pemerintah, saektor usaha dan organisasi-organisasi masyarakat.

Dari indikasi ini, bila kita dekatkan dengan keadaan Indonesia yang mayoritas masyarakatnya dalam memenuhi kebutuhan mengandalkan sector agaris, mampukah Indonesia menahan kelangkaan air? Kita semua nampaknya mesti belajar banyak dari  Dusun Tenggar, Desa Jeblogan, Wonogiri, Jawa Tengah, yang meyakini dayangan atau reksan (semacam tempat keramat). Tenggar yang merupakan mata air di daerah hulu Bengawan Solo adalah sumber kesejahteraan dan keselamatan warga setempat.

Demikian berartinya mata air tersebut, membuat warga menjaga tempat itu dengan tradisi yang kuat. Mata air yang juga dikenal warga dengan sebutan kepala kali, tuk atau belik terdapat di samping bawah sebuah pohon beringin yang berusia puluhan tahun. Mereka selalu memberikan sesajian di tengah-tengah pohon beringin tersebut. Setiap tahun pada bulan longkang atau selo (setelah bulan Syawal), di tempat ini diselenggarakan upacara bersih dukuh dalam bentuk menguras dan membersihkan sumber air (nawu) pada pagi hari. Sore harinya dilanjutkan dengan selamatan.

Selamatan untuk mengembalikan sumber air dalam kondisi bersih, sekaligusmemohon keselamatan dan kesejahteraan bagi warga setempat. “Kepala kali” ini bagi mereka merupakan sumber kesejahteraan rakyat karena itu, pohon beringin ini harus tetap dijaga sepanjang masa agar mata air di tempat ini terus mengalir. Yang menrik sepanjang aliran sungai itu terdapat terdapat  punden (semacam tempat keramat) yang berada tepat di pinggiran kali, seperti Punden Bero, Punden Gedong, Punden Dayu, dan Punden Suden.

Masing-masing punden memiliki sejarah tersendiri. Punden Gedong, misalnya, terdapat di aliran kali yang berbentuk meander (berkelok-kelok) yang di sekitarnya terdapat pohon-pohon besar, seperti pohon bulu atau pohon jambon yang merupakan penyimpan air. Di tengah pepohonan besar tersebut terdapat tinggalan arsitektural yang berbentuk piramid berteras (terrasen piramide) dari tradisi megalitik yang hingga kini disakralkan. Punden berorientasi ke Gunung Wungkal yang diyakini sebagai tempat persemayaman arwah nenek moyang yang dihormati warga setempat. Besarnya manfaat mata air ini juga dituturkan sejumlah warga desa setempat. warga Dusun Ngampih, sebelum adanya pipanisasi dan pembuatan sumur, warga setempat memenuhi kebutuhan air bersih dengan mengambil air (ngangsu) di sumber-sumber air tersebut. Tugas mengambil air dilakukan perempuan dengan menggunakan wadah air dari tanah liat bakar berbentuk kelenting atau jun, yang ditempatkan pada pinggang kiri (ngindit).

Jika jarak antara rumah tinggal dan sumber air relatif dekat, air dialirkan menggunakan talang bambu. Sejak tahun 2000 tradisi itu mulai berkurang, seiring penggunaan pipa. Namun, pada musim kemarau tradisi pengambilan air dari mata air masih tetap dilakukan. Meskin demikian upaya menjaga dan melestarikan daerah hulu Bengawan Solo ini telah dilakukan warga setempat sejak bertahun-tahun yang lalu, dengan menanam pohon yang berusia panjang, berdiameter besar, dan bisa menyimpan air, seperti pohon beringin dan bulu. Karena dengan demikian, mata air yang berasal dari pepohonan ini akan juga memiliki keabadian. Pohon beringin adalah sebutan lain kalpataru, yang merupakan pohon kehidupan. Ini selaras dengan air yang merupakan sumber kehidupan. Inilah kearifan lokal.

Penyakralan mata air merupakan salah satu cara melestarikan arti penting sumber air bagi kehidupan dengan pendekatan kearifan local sesuai dengan keyakinan masyarakat bersangkutan. Esensinya adalah betapa penting melestarikan sumber air, baik bagi pemenuhan kebutuhan air bersih bagi rumah tangga atau pasokan bagi Bengawan Solo yang menjadi hajat hidup masyarakat luas di 11 kabupaten dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
Oleh : Muh. Muhlisin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar