Banyak konflik di dunia ini
disebabkan atau dipicu oleh kelangkaan air. Konflik-konflik yang terjadi
diberbagai belahan negara, misalnya di chad sampai Darfur, Sudan, Gurun Oaden,
dan Ethiopian, Sumeria dan perompaknya, serta Yaman, Irak, Pakistan,
Afganistan, semuanya terletak di busur besar kawasan yang gersang. Dimana
tempat-tempat seperti itu yang menyebabkan gagal panen, matinya ternak,
kemiskinan ekstrim, dan keputus asaan.
Masalah air ini sangat kursial,
dan tidak akan bisa hilan begitu saja. Sebaliknya ia akan memburuk kecuali,
kita sebagai masyarakat, memberi respon positif. Serangkaian studi yang
dilakukan baru-baru ini menunjukkan betapa rapunya keseimbangan air dibanyak
belahan dunia yang mengakibatkan kemiskinan ekstrim. UNESCO baru-baru ini menerbitkan
The Un Word Wate deelopment report 2009, dan Asia society menerbitkan telaah
mengenai krisis air di Asia “Asia’s Next challenge : Scuring the region’s Water
Future”. Semua persoalan menceritakan hal yang sama. Pasokan air semakin
berkurang dibanyak bagian dunia, terutama kawasan yang gersang.
Kelangkaan air ini
mencerminkan membengkaknya populasi menipisnya air tanah, meningkatnya limbah dan populasi
serta dampak dari perubahan cuaca. Konsekuensi yang sangat mengerikan:
kekeringan dan kelaparan, hilangnya mata pencaharian, menyebarkan penyakit
bawaan air, migrasi yang terpaksa. Solusi parktisnye bisa menyakup banyak
komponen, termasuk manajemen air yang lebih baik, tehnologi yang lebih guna efesien
pemakian air serta serta inestasi baru yang dilakukan bersama dengan
pemerintah, saektor usaha dan organisasi-organisasi masyarakat.
Dari indikasi ini, bila kita
dekatkan dengan keadaan Indonesia yang mayoritas masyarakatnya dalam memenuhi
kebutuhan mengandalkan sector agaris, mampukah Indonesia menahan kelangkaan
air? Kita semua nampaknya mesti belajar banyak dari Dusun Tenggar, Desa Jeblogan, Wonogiri, Jawa
Tengah, yang meyakini dayangan atau reksan (semacam tempat keramat). Tenggar
yang merupakan mata air di daerah hulu Bengawan Solo adalah sumber
kesejahteraan dan keselamatan warga setempat.
Demikian berartinya mata air
tersebut, membuat warga menjaga tempat itu dengan tradisi yang kuat. Mata air
yang juga dikenal warga dengan sebutan kepala kali, tuk atau belik terdapat di
samping bawah sebuah pohon beringin yang berusia puluhan tahun. Mereka selalu
memberikan sesajian di tengah-tengah pohon beringin tersebut. Setiap tahun pada
bulan longkang atau selo (setelah bulan Syawal), di tempat ini diselenggarakan
upacara bersih dukuh dalam bentuk menguras dan membersihkan sumber air (nawu)
pada pagi hari. Sore harinya dilanjutkan dengan selamatan.
Selamatan untuk mengembalikan
sumber air dalam kondisi bersih, sekaligusmemohon keselamatan dan kesejahteraan
bagi warga setempat. “Kepala kali” ini bagi mereka merupakan sumber
kesejahteraan rakyat karena itu, pohon beringin ini harus tetap dijaga
sepanjang masa agar mata air di tempat ini terus mengalir. Yang menrik
sepanjang aliran sungai itu terdapat terdapat
punden (semacam tempat keramat) yang berada tepat di pinggiran kali,
seperti Punden Bero, Punden Gedong, Punden Dayu, dan Punden Suden.
Masing-masing punden memiliki
sejarah tersendiri. Punden Gedong, misalnya, terdapat di aliran kali yang
berbentuk meander (berkelok-kelok) yang di sekitarnya terdapat pohon-pohon
besar, seperti pohon bulu atau pohon jambon yang merupakan penyimpan air. Di
tengah pepohonan besar tersebut terdapat tinggalan arsitektural yang berbentuk
piramid berteras (terrasen piramide) dari tradisi megalitik yang hingga kini
disakralkan. Punden berorientasi ke Gunung Wungkal yang diyakini sebagai tempat
persemayaman arwah nenek moyang yang dihormati warga setempat. Besarnya manfaat
mata air ini juga dituturkan sejumlah warga desa setempat. warga Dusun Ngampih,
sebelum adanya pipanisasi dan pembuatan sumur, warga setempat memenuhi
kebutuhan air bersih dengan mengambil air (ngangsu) di sumber-sumber air
tersebut. Tugas mengambil air dilakukan perempuan dengan menggunakan wadah air
dari tanah liat bakar berbentuk kelenting atau jun, yang ditempatkan pada
pinggang kiri (ngindit).
Jika jarak antara rumah tinggal
dan sumber air relatif dekat, air dialirkan menggunakan talang bambu. Sejak
tahun 2000 tradisi itu mulai berkurang, seiring penggunaan pipa. Namun, pada
musim kemarau tradisi pengambilan air dari mata air masih tetap dilakukan. Meskin
demikian upaya menjaga dan melestarikan daerah hulu Bengawan Solo ini telah
dilakukan warga setempat sejak bertahun-tahun yang lalu, dengan menanam pohon yang
berusia panjang, berdiameter besar, dan bisa menyimpan air, seperti pohon
beringin dan bulu. Karena dengan demikian, mata air yang berasal dari pepohonan
ini akan juga memiliki keabadian. Pohon beringin adalah sebutan lain kalpataru,
yang merupakan pohon kehidupan. Ini selaras dengan air yang merupakan sumber
kehidupan. Inilah kearifan lokal.
Penyakralan mata air merupakan
salah satu cara melestarikan arti penting sumber air bagi kehidupan dengan
pendekatan kearifan local sesuai dengan keyakinan masyarakat bersangkutan.
Esensinya adalah betapa penting melestarikan sumber air, baik bagi pemenuhan
kebutuhan air bersih bagi rumah tangga atau pasokan bagi Bengawan Solo yang menjadi
hajat hidup masyarakat luas di 11 kabupaten dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
Oleh : Muh. Muhlisin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar