Review
Melihat kembali Jakarta pada masa kolonial yang pada masa itu masih dikenal dengan nama Batavia, memang sangat menarik. Di Batavia inilah kita dapat menemukan berbagai peninggalan Sejarah Kependudukan Belanda yang penuh dengan dimensi sosio-politik. Kisah masa lalu Jakarta sebagai salah satu pusat administrasi bagi tentara Belanda dan kongsi dagang VOC nampaknya secara tidak langsung telah membentuk Jakarta masa kini.
Melihat kembali Jakarta pada masa kolonial yang pada masa itu masih dikenal dengan nama Batavia, memang sangat menarik. Di Batavia inilah kita dapat menemukan berbagai peninggalan Sejarah Kependudukan Belanda yang penuh dengan dimensi sosio-politik. Kisah masa lalu Jakarta sebagai salah satu pusat administrasi bagi tentara Belanda dan kongsi dagang VOC nampaknya secara tidak langsung telah membentuk Jakarta masa kini.
Buku karya,
Henderik E Niemeijer, berjudul “Batavia, Masyarakat Kolonial Abad XVII”
adalah salah satu buku yang sangat penting jika kita ingin memahami Jakarta
tempo dulu untuk melihat Jakarta saat ini. Selain itu, bagi civitas akademik buku
ini bisa menjadi salah satu refrensi jika ingin melihat berbagai dimensi
sosio-politis Jakarta (Batavia) pada masa lalu.
Di dalam buku
ini Henderik E Niemeijer, menceritakan bahwa, Batavia pada masa lalu,
tepatnya pada Abad ke 17 adalah kota perbudakan. Batavia pada masa itu,
pebudakan menempati posisi yang sangat strategis dan menjadi ladang subur bagi
para cukong, karena pemerintah kolonial secara terang-terangan
melegalkan perbudakan. Hal ini karena pemerintah kolonial, memiliki
kepentingan untuk mencari para pekerja murah atau bahkan tidak dibayar, guna
mengembangkan Batavia sebagai pusat administrasi bagi kongsi dagang VOC.
Akibatnya budak
tidak hanya didatangkan dari berbagai pulau di luar Jawa seperti Maluku,
Sulawesi atupun Bali, melainkan juga dari luar negeri seperti India, Srilanka,
hingga Filipina. Para budak ini kemudian diperjualbelikan oleh tuan-tuan
mereka. Di kemudian hari kedatangan para budak di batavia memunculkan masalah
kemasyarakatan tersendiri di Batavia, mulai dari pergundikan, kriminal, hingga
kekerasan (hal. 31-57).
Banyaknya para
pendatang yang datang ke Batavia disertai dengan berbagai persoalan pelik.
Sebagaimana dalam buku ini Batavia ada abad ke 17, munculnya berbagai entis,
ras, golongan dan agama di Batavia, seringkali menimbulkan konflik. Konflik
yang paling sering muncul pada waktu itu ialah konflik agama. Hal ini
terjadi antara penganut Kristen dan Katolik. Kala itu para pendeta Kristen
terang-terangan menolak misi yang dijalankan oleh pemuka agama Katolik. (hal.
239-254). Bahkan tanpa segan mereka menganggap ibadah ataupun ritus yang
dipimpin oleh pemuka Katolik dianggap ilegal.
Hal ini
memperlihatkan bahwa hubungan antar pemeluk agama pada masa kolonial masih
sarat akan resistensi. Untuk itu, buku ini menarik untuk di baca guna
memahahami kehidupan masyarakat kolonial Batavia. Akan tetapi, salah
satu kekurangan dari buku ini ialah, banyaknya catatan yang diambil dari dokumen
administrasi pemerintahan tidak diformulasi dengan cara yang lebih cair.
Padahal cara yang lebih cair akan membuat pembaca lebih asyik mengikuti
“perjalanan ke masa lalu” ini.
Judul: Batavia, Masyarakat Kolonial Abad XVIIPenulis: Henderik E Niemeijer
Penerbit: Masup Jakarta
Terbit: Juli, 2012
Halaman:
Harga: Rp. 180.000 (hard cover)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar