Post Top Ad

Post Top Ad

Jumat, 08 Maret 2013

Koreasi Sistem Keyakinan Dengan Prilaku Manusia



Agama bagi pemeluknya diyakini sebagai jalan keselamatan. Bahkan klaim keselamatan itu dalam prilaku umat beragama seringkali ekslusif. Artinya, masing-masing umat beragama menyakini bahwa hanya agama yang dianutnya lah satu-satunya jalan keselamatan bagi umat manusia. Sedangkan agama yang lain di anggap sebagai jalan sesat dan bentuk penyimpangan.   Inilah yang bisa kita pahami dari sebagian penafsiran atas doktrin extra exclesia nula solum (di luar gereja tidak ada keselamatan) bagi kalangan Kristiani atau doktrin yang mengatakan waman yabtaghi ghoira al-Islama dinan fala yuqbalu minhu (barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima).
Agama merupakan suatu sistem kepercayaan dan pola perilaku yang dijalankan oleh manusia. Karena itu agama mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan dimaksud berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia sebagai kekuatan gaib yang tidak dapat ditangkap dengan pancaindera, namun mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari.
Sebagai kerangka untuk memahami tentang agama, maka dipergunakan teori dari Talcott Parson (dalam Berger, Peter L, 1993 : 223), agama adalah kebudayaan dalam tingkat tertinggi dan agama berperan secara kultural dalam pembentukan kesadaran dan hti nurani masyarakat. Adapun agama sebagai aspek kebudayaan momegang peranan penting sebagai kekuatan rohani yang meberi landasan etik dan moral serta arah pada pikiran, perasaan dan tindakan manusia serta mengembangkan orientasi nilai, aspirasi dan egoideal manusia. Selanjutnya agama menemiikan ekspresi dalam kebudayaan mated, dalam perilaku manusia, dan dalam sistem nilai, moral dan etika. Agama berinteraksi dengan sistem-sistem organisasi keluarga, perkawinan, ekonomi, hukum termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi.
Agamapun mempunyai fungsi psikologis dalam mengatasi kegelisahan-kegelisahan hidup. Dalam arti, agama bertujuan untuk mencapai kedamaian rohani dan kesejahteraart jasmani. Menurut Habib Mustopo M, yang dikutip oleh Siti Maria, dkk (1997/1998: 7), suatu kenyataan yang tidak dapat disangkal bahwa perkembangan manusia pada umumnya memperlihatkart kecendrungan untuk mencapai kemajuan dan perwujudan diri. Kecendrungart ini ditandai oleh perjuangan mencari kebenaran yang dalam pertumbuhan selanjutnya akan menjadi keyakinan yang oleh sebagian besar diaggap menjelma sebagai agama.
Menurut Azwar (1995) ajaran agama berperan dalam pembentukan system moral pada individu yang paling berperan dalam pembentukan system kepercayaan dan membentuk sikap individu serta dijadikan sebagai determinan tunggal saat individu tersebut menghadapi hal-hal yang bersifat kontroversial. Agama memiliki peranan dalam menjaga kestabilan mental manusia saat mereka menghadapi berbagai macam goncangan-goncangan dan ketegangan jiwa seperti frustasi, konflik dan kecemasan, sehingga manusia tetap kreatif dan aktif dalam melaksanakan tugas-tugas mereka (dalam Anshari, 1990).
Setiap manusia dalam hidupnya tidak akan lepas dari berbagai masalah yang harus dihadapinya. Agama merupakan sumber sistem yang mengandung nilai-nilai dan pengetahuan yang dapat digunakan sebagai petunjuk, pedoman dan pendorong dalam memecahkan setiap pennasalahan dalam kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, dan militer sehingga akan terbentuk pola-pola motivasi, tujuan hid up dan segala peri laku manusia akan tertuju pada keridhaan Allah SWT (dalam Daradjat dkk, 1984).
Korelasi Sistem Keprcayaan
            Dalam perpektif sosiologis agama dipandang sebagai sistem kepercayaan yang diwujudkan dalam perilaku sosial tertentu. Agama berkaitan dengan pengalaman manusia, baik sebagai individu maupun kelompok. Oleh karena itu perilaku yang diperankan oleh individu ataupun kelompok itu akan terkait dengan sistem keyakinan dari ajaran agama yang dianutnya. Perilaku individu dan sosial digerakkan oleh kekuatan dari dalam, yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran agama yang telah menginternalisasi. Peter L. Berger (1969) melukiskan agama sebagai suatu kebutuhan dasar manusia, karena agama merupakan sarana untuk membela diri terhadap kekacauan yang mengancam manusia.
            Agama dapat dipandang sebagai kepercayaan dan perilaku yang diusahakan oleh suatu masyarakat untuk menangani masalah yang tidak dapat dipecahkan oleh teknologi dan teknik organisasi yang tidak diketahuinya. Kalau agama dipahami sebagai karya agung Tuhan yang dihadirkan dalam bentuk teks-teks suci ketuhanan (divine text), maka persoalan utama bagi umat beragama adalah bagaimana menafsirkan teks-teks suci itu di tengah zaman yang terus berubah dan semakin plural. Teks-teks keagamaan itu sudah barang tentu tidak mungkin berubah.
            Kitab-kitab suci akan tetap seperti apa adanya dan tidak akan menerima perubahan. Sementara itu dunia akan terus berubah sejalan dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan yang ditemukan oleh umat manusia. Di sini yang perlu diperhatikan adalah sistem nalar umat manusia yang digunakan untuk manfsirkan dan melaksanakan agamanya. Sistem nalar keagamaan inilah yang menjadi mediasi antara teks-teks keagamaan dan realitas sosial budaya yang akan terus berubah.
            Nalar keberagamaan ini sangat penting, karena saat ini kecenderungan umat beragama yang menjalani kehidupan agamanya secara dogmatik dan tidak responsif terhadap keanekaragaman budaya dan pemikiran. Dalam keberagamaan dogmatik itu kemudian terjadi pensakralan, bahkan pemberhalaan terhadap pemikiran suatu kelompok dan golongan, sehingga tidak ramah terhadap keanekaragaman pemikiran. Pola keberagamaan semacam ini tentu adalah pola keberagamaan yang tidak manusiawai. Pola semacam ini berakar pada sistem nalar tertentu yang dipakai umat beragama dalam memahami agamanya dan merespon setiap situasi historis sosiologis yang dihadapnya. Sistem nalar inilah yang telah mengubah agama manjadi dogma yang harus dijaga dan dipertahankan dengan tidak kempedulikan pengalaman manusia yang terus berubah.
            Agama sebagai salah satu aspek kebudayaan yang paling penting, karena agama berfungsi dan berperan di dalam memelihara dan menjaga keseimbangan dalam masyarakat. Agam merupakan pegangan hidup bagi setiap insani yang didalamnya terdapat ajaran-ajaran yang harus dihayati, sehingga setiap manusia akan merasa tenang dalam menjalani kehidupannya.
            Dengan demikian kehidupan keagaman di masyarakat perkotaan harus terus dipupuk dan ditingkatkan. Dengan adanya kemajuan jaman bukan berarti kita terbawa oleh arus tersebut tetapi kita selaraskan arus tersebut untuk peningkatan pengamalan ajaran-ajaran agama. Sehingga akan tercipta keselarasan antara kehidupan dunia dan akhirat.
Oleh : Muhammad Muhlisin

Daftar Pustaka
Drs. Hendropuspito, Sosiologi Agama, Jakarta, Kanisius, 1983
Berger, Peter L., Tafsir Sosial Atas Kenyataan, Jakarta : LP3ES, 1993
Berger, Peter L., Langit Suci (Agama Sebagai Realitas Sosial), Jakarta : LP3ES, 1991

Tidak ada komentar:

Posting Komentar