Sekitar 88 tahun silam, tepatnya 6 Februari 1925, ia terlahir di bumi
Nusantara. Dan 7 tahun sudah dia meninggalkan kita. Dialah Pramoedya
Ananta Toer, sastrawan Indonesia yang namanya masuk nominasi penghargaan
Nobel Sastra.
elang empat hari setelah tanggal lahirnya, pada 10
Februari 2013, di Jalan Sumbawa 40, Jetis, Blora, Jawa Tengah, di rumah
tempat Pram dilahirkan dan dibesarkan digelar peringatan miladnya ke-88.
Kini,
rumah itu ditempati Soesilo Toer, adik ke-6 Pram. Di rumah itu pula
Soesilo mendirikan Perpustakaan PATABA (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua
Bangsa). Malam itu, bekerja sama dengan penerbit Gigih Pustaka Mandiri,
Semarang, perpustakaan ini menggelar acara ”Mengenang Pram Dari Dalam”.
Sekitar
pukul 19.30, sekitar 30 orang berkumpul di ruang tamu. Mereka duduk
beralas tikar, berimpit-impitan, tetapi semua menikmati diskusi yang
dibuka Bambang Soekotjo (68), kawan Pram saat dibuang di Pulau Buru.
Bambang
yang berasal dari Pati, Jateng, sebelum dibuang di Pulau Buru, aktif
dalam organisasi Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) semasa
kuliah di Jurusan Ekonomi Perusahaan Fakultas Ekonomi Universitas
Diponegoro (tak tamat). Organisasi itu dianggap onderbouw Partai Komunis
Indonesia.
Bambang masuk Pulau Buru pada tahun 1969. Ia menempati
unit 4, lalu dipindahkan ke unit 16. ”Di sana ada 20 unit dan pada
waktu itu Pak Pram menempati unit 3,” tuturnya.
Pada 1978-1979 ia
baru mengenal Pram. Ketika itu Pram sudah dipindah ke markas komando
(mako). Mako adalah ruang khusus yang dihuni orang-orang penting, salah
satunya Pram. Di situlah, di dalam ruangan seluas 2 meter x 3 meter,
Pram menulis karya-karyanya.
”Saya pernah disuruh mengoreksi ejaan
dari beberapa karyanya, seperti Mangir, Arus Balik, dan Tetralogi Buru.
Beliau (Pram) senang dengan anak muda. Banyak orang selain saya yang
disuruh membaca dan mengoreksi karyanya. Kebanyakan dari mereka yang
dititipi itu menyukai sastra karena ketika bertemu yang diobrolkan
seputar penulisan sastra,” kata Bambang.
Sejarah Indonesia
Hari
semakin malam, hujan pun turun tanpa sungkan. Namun, suasana semakin
hangat ketika segenap kenangan tentang Pram diungkapkan beberapa peserta
diskusi. Kali ini kenangan itu hadir dari pembaca karya Pram.
Afida
(27), perempuan yang tinggal di Semarang, mantan aktivis Lembaga Pers
Mahasiswa Amanat Institut Agama Islam Negeri Walisongo, Semarang, itu
mengatakan, karya Pram yang dibacanya pertama kali adalah Bumi Manusia.
Baginya,
novel itu melekat dalam pikiran karena menceritakan sejarah Indonesia
yang tidak melelahkan. Tak seperti waktu ia belajar sejarah semasa
kecil. ”Ketika membaca novel itu, saya benar-benar bisa membayangkan
bagaimana kondisi Indonesia pada zaman penjajahan.”
Akhir-akhir
ini ia masih membaca Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Bagi Afida, buku
itu menyesakkan, selalu ada rasa sakit hati terhadap penjajahan.
Setelah
itu giliran Asep Mufti (28), pengacara yang mengenang Pram. ”Setelah
saya membaca karya Pram, saya mencoba membuat pleidoi untuk persidangan
dengan gaya bahasa bercerita,” katanya.
Menurut dia, selama ini
isi pleidoi persidangan banyak menggunakan bahasa yang sulit. Akibatnya,
bisa jadi hakim malas membaca pleidoi.
Selain diskusi mengenang
Pram, Penerbit Gigih Pustaka Mandiri juga menjual buku berjudul Pram
Dari Dalam. Buku itu karya Soesilo Toer, seseorang yang digambarkan
sebagai anak kecil dalam buku Pram, Bukan Pasar Malam.
”Kalau Anda pernah membaca Bukan Pasar Malam, di situ ada anak kecil yang suka menangis, itulah saya,” ucap Soesilo (76).
Karya terlarang
Kenangan
demi kenangan terus diungkap. Gunawan Budi Susanto (52), editor buku
Pram Dari Dalam, menyatakan, ia baru mengenal karya Pram ketika kuliah
di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, pada
tahun 1982.
”Waktu itu karya Pram masih terlarang di fakultas
sastra. Jangan harap buku itu ada di perpustakaan atau menjadi bahan
skripsi. Baru tahun 1984-1985 buku-buku Pram beredar di fakultas sastra.
Itu pun sulit didapatkan karena pada waktu itu membaca dan
mendiskusikan karya Pram berarti siap masuk penjara,” katanya mengenang.
Ia menambahkan, pada waktu itu banyak teman yang harus masuk penjara hanya karena membaca dan mendiskusikan karya Pram.
”Beberapa
teman dari Studi Sosial Palagan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
yang saya kenal dan yang harus masuk penjara, seperti Bonar Tigor
Naipospos, Bambang Subono, dan Bambang Isti Nugroho,” ujar Gunawan.
Ada
pula Budi Maryono (32) dari Gigih Pustaka Mandiri yang berkata, ”Ketika
saya membaca Rumah Kaca, keadaan itu persis menggambarkan kondisi
Indonesia pada Orde Baru, tepatnya 1998.”
Itulah Pram. Ia adalah buku. Buku bisa dilarang, dibakar, dan dibuang, tetapi dia abadi.
Ahsanul Mahdzi Jurusan
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Sosial Institut Keguruan dan Ilmu Pengetahuan PGRI Semarang,
Jawa Tengah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar