DI usia 25 tahun,
Alfred Russel Wallace yang berasal dari keluarga miskin di Inggris
memilih meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti dorongan hati untuk
berkelana memuaskan hobi mengoleksi spesimen serangga, burung, dan
binatang lainnya. Terinsipirasi Vestiges of the Natural History of Creation karya Robert Chamber, dia menyusuri sungai Amazon dan Rio Negro selama empat tahun.
“Saya mulai merasa tak
puas hanya dengan koleksi setempat; hanya sedikit yang bisa dipelajari
darinya,” tulis Wallace kepada sahabatnya yang juga seorang naturalis
amatir, Henry Walter Bates, pada 1847.
Dalam perjalanan pulang
ke Inggris, kapal yang mengangkut Wallace terbakar dan karam. Lenyaplah
semua koleksi spesimen dan tulisan yang dikumpulkannya.
Wallace tak jera. Dia
kemudian melintasi 22.400 kilometer wilayah Kepulauan Nusantara (kini
Indonesia, Malaysia, dan Singapura) selama delapan tahun. Dari
perjalanan ini dia membawa 125.660 spesimen fauna (termasuk sejumlah
spesies baru) dan menetapkan garis imajiner yang membagi keberagaman
hayati wilayah timur dan barat Indonesia (termasuk pengelompokan ras
berdasarkan lempeng bumi). Yang tak kalah penting, di kediamannya di
Ternate pada 1858, Wallace menyimpulkan kunci teori evolusi melalui
seleksi alam dalam artikel ilmiah berjudul On the Tendencies of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type: “Hanya individu superior yang akan bertahan,” tulisnya.
Paul Spencer
Sochaczewski, seorang penulis dan penggiat lingkungan hidup yang lama
bekerja di Asia Tenggara, menyatukan berbagai tema intim dalam kehidupan
Wallace (termasuk tulisan-tulisannya) dan mengaitkannya dengan
pengalaman pribadinya menelusuri jejak Wallace di berbagai lokasi di
Indonesia, Malaysia, dan Singapura masa kini.
“Saya berada di
Sarawak pada 1855 ketika bertemu seorang anak laki-laki Melayu bernama
Ali dan mempekerjakannya sebagai pembantu pribadi, sekaligus menolong
saya belajar bahasa Melayu… Ali adalah seorang yang fokus, rapi-bersih,
dan pandai memasak,” tutur Wallace dalam otobiografinya My Life: A Record of Events and Opinions (1908).
Ali mengatur perjalanan
rombongan Wallace ke berbagai pelosok dan menemani berburu mengoleksi
spesimen. Setelah tujuh tahun menjadi asisten Wallace, mereka berpisah
di Singapura. Kemudian apa yang terjadi?
Sochaczewski mencari
jejak Ali. Di Malaysia dan Singapura, tak seorang pun tahu siapa Ali.
Ternate menjadi kemungkinan terbesar. Dalam My Life, Wallace
menyebutkan bahwa “Ketika kami bermukim di Ternate, Ali menikah, namun
istrinya tinggal bersama keluarganya sehingga tak ada yang berubah. dia
terus mengiringi perjalanan saya hingga ke Singapura untuk kembali ke
Inggris.”
Keyakinan Sochaczewski
diperkuat oleh keterangan naturalis Amerika Thomas Barbour yang
mengunjungi Ternate pada 1907. Barbour bertemu dengan lelaki Melayu
lanjut usia yang memperkenalkan diri sebagai Ali Wallace. Dia mengambil
foto Ali dan mengirimnya ke Wallace, yang membalas surat itu dengan nada
gembira. Sayang, surat tersebut hilang dari tangan Barbour dan Wallace
tak pernah menyurati Ali secara langsung.
Sochaczewski bercerita
tentang Ali kepada pejabat setempat atau tetua desa, berharap ada yang
mengingatnya. Dia juga mengusulkan proyek penulisan tentang pencarian
Ali hingga menyebarluaskan pencarian Ali sebagai bagian dari promosi
wisata dan kebanggaan daerah. Semua orang menyambutnya namun tak ada
yang bergerak.
“Apakah ini cara
Indonesia melakukan penolakan terhadap perubahan, atau minimnya
keingintahuan intelektual, atau sebuah keengganan menyambut ‘ide asing’?
Saya tak tahu,” tulis Sochaczewski, yang dalam rasa frustasi memutuskan
berkeliling kampung membawa foto Ali bersama seorang teman yang lancar
berkomunikasi dengan dialek setempat.
Sochaczewski juga
membahas mistisisme yang ditemui Wallace hampir di berbagai pelosok
Asia. Meski bukan orang yang religius, Wallace memiliki minat terhadap
dunia supranatural dan mempelajari hipnotisme pada 1844.
Meski tak banyak menulis tentang kejadian aneh selama perjalanannya dalam Malay Archipelago,
Wallace memilih tak mengkritik atau menganggapnya sebagai
ketidakbenaran secara ilmiah. Keyakinan Wallace akan keberadaan roh dia
kemukakan dalam publikasi Light (No 806, 1896) dengan tajuk Miracles and Modern Spiritualism:
“Tak ada yang lebih alamiah dari keinginan roh untuk menyampaikan pesan
kepada teman-teman yang ditinggalkan, bahwa kematian bukanlah sebuah
akhir, dan bahwa mereka masih hidup dan bahagia…”
Hal yang sama dialami
Sochaczewski. Dalam sebuah pertemuan dengan Sultan Hamengkubuwono IX,
Sochaczewski menyampaikan rasa skeptisnya ketika Sultan bercerita
tentang Nyi Roro Kidul dan pertalian erat dengan kesultanan.
“Cerita tersebut
berlawanan dengan pola Barat, Kartesian, dan otak kiri, yang menjadi
cara saya melihat dunia,” ujar Sochaczewski.
Mendengar responsnya,
Sultan meminta Sochaczewski tak menanyakan pertanyaan Barat untuk
konteks Jawa. “Pilihan anda adalah mempercayai keyakinan ini atau tidak.
Menganalisisnya terlalu dalam seringkali tak membawa manfaat,” jelas
Sultan.
Dengan gaya lugas, satir, dan rasa keprihatinan yang tulus, Sochaczewski mengajak pembaca menyelami passion
dan kontradiksi dalam diri Wallace –dan akhirnya dalam diri setiap kita
dalam berelasi dengan alam dan sesama. Dengan opini dan komentarnya
yang unik, Sochaczewski menarik benang merah antara apa yang dialaminya
dengan pengalaman Wallace. Dalam refleksinya, Sochaczewski menulis:
“Seberapa sering kita betul-betul sendiri?” Bagi Wallace, berkelana jauh
dalam kesendirian akhirnya menjadi sebuah pilihan yang menarik untuk
dia jalani.
“Sebetulnya, Swiss dan
Amazon bagi saya kini terasa tak nyata –seperti keberadaan masa lalu
atau mimpi yang lampau. Kini Melayu dan Papua, kumbang dan burung,
menguasai pikiran saya, diiringi dan kalkulasi keuangan dan harapan akan
masa depan yang bahagia di Inggris, di mana saya mungkin hidup sendiri
dan terasing, kecuali dengan beberapa teman pilihan. Mungkin engkau tak
mampu membayangkan bagaimana saya mencintai kesendirian ini,” tulis
Wallace kepada sahabatnya, George Silk, dalam My Life.
Inordinate Fondness for Beetles
bukanlah sebuah narasi standar biografi atau kisah perjalanan Wallace
yang disusun secara kronologis berdasarkan penemuan spesies-spesies baru
di berbagai tempat. Lewat gabungan gaya penulisan
biografi/travelogue/refleksi-diri/komentator, Sochaczewski mengajak
pembaca melihat sisi lain dari perjalanan Wallace dan memahami kemajuan
(atau stagnasi, bahkan kemunduran) kondisi keberagaman hayati,
kepercayaan, dan kemanusiaan pada abad ke-21.
OLEH: MIRA RENATA/KONTRIBUTOR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar