Post Top Ad

Post Top Ad

Jumat, 08 Maret 2013

Menuju Jogja 2013



Yogyakarta adalah salah satu kota yang memiliki nilai-nilai istimewa dibandingkan kota-kota lain di Republik Indonesia. Semboyannya sebagai “kota berhati nyaman” telah terbukti dan diakui oleh masyarakat luas. Pada tahun 2009 lalu Yogyakarta mendapatkan prestasi yang membanggakan sebagai kota yang paling nyaman. Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) pada tahun 2009 pun juga menyatakan Yogyakarta sebagai kota ternyaman dibandingkan dengan sebelas kota-kota besar lainnya.

Hasil penelitian IAP pada 2009 lalu menyatakan bahwa kota yang terkenal dengan makanan khas gudeg ini adalah 65,34 (nilai tertinggi 100 yakni sangat nyaman), di susul Manado 59,90, Makasar 56,52, Bandung 56,37, Jayapuara 53,13, Surabaya 53,13, Banjarmasin 52, 61, Semarang 52,52, Medan 52,28, Palangkaraya 52,04, Jakarta 51,9 dan Pontianak 43,65. Hasil indeks yang menggembirakan ini tidak lain karena adanya dukungan budaya Yogyakarta yang mengikat dan selalu menjadi pegangan masyarakat.

Pegangan nilai budaya ini diiplementasikan dalam setiap prilaku yang ramah, lemah lembut dan sopan. Nilai-nilai budaya ini pun menjadi parameter dalam menjalankan roda kehidupan bermasyarakat. Selain nilai budaya ini, geliat kehidupan kota yang lambat meskipun terus digerus oleh arus globalisasi, Yogyakarta masih tetap bisa mempertahankan nilai-nilai budaya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Di sisi lain, banyaknya tempat-tempat pariwisata berbasis budaya lokal menjadi salah satu andalan dalam menopang perekonomian masyarakat Yogya. Diantara tempat-tempat pariwisata itu, Mailoboro mungkin yang paling terlihat eksis dalam menemani para pengunjung baik lokal maupun regional. Selain sebagai basis perekonomian bagi masyarakat Yogyakarta, Malioboro masih menyimpan banyak nilai istimewa ketimbang tempat-tempat pariwisata lainnya. Di sampaing dikerumuni oleh para budayawan, musisi dan seniman yang kreatif, Malioboro juga tempat yang efektif untuk mengembangkan daya kreatifitas.

Meskipun hanya berbentuk deretan ruko sepanjanga  300 meter, Malioboro menyimpan berjuta makna. Makna yang bukan hanya bisa dilihat dari aksi para pejalan kaki, orang-orang yang sekedar ngobrol sambil minum kopi atau para pengunjung yang sedang belanja diswalayan, kecil, besar atau mall. Tetapi, Malioboro juga sebagai tempat menjalin hubungan, berkomunikasi dengan setiap orang yang datang kesana.

Malioboro tempo doeloe sebagai salah satu kawasan mangkalnya para seniman, seperti WS, Rendra, Emha Aiunun Najib, dan kawan-kawan sejawatnya, telah menjadi salah satu mahnet yang bisa menarik ratusan hingga jutaan wisatawan, baik domestic maupun regional. Mereka juga telah merangsang para seniman Jogja untuk mengembangkan kreasinya, terbukti dengan semakin menjamurnya para pengrajin, batik, kaos, pernak-pernik yang bercorak ke-Jogja-an.

Dari segi pendidikannya, tidak bisa diragukan lagi Yogyakarta adalah gudangnya Universitas, yang kualitasnya sudah tidak bisa diragukan lagi. Banyak jebolan-jebolannya yang sudah menjadi orang-orang besar dan terbukti mampu bersaing dikancah internasional. Di Yogyakarta pula banyak bersemi dan bermunculan insan-insan cerdas dan unggul.

Insan yang cerdas nan kreatif ini mungkin tak akan tumbuh subur jika tidak ditopang dengan sebuah sistem yang amat kondusif. Insan kreatif ini tentu mendapatkan tempatnya di Yogyakarta karena adanya Law enforcement. Di mana Law enforcement adalah sebuah bangunan sistem yang memberi suasana kenyamanan dan keamanan. Dengan terbangunnya sistem yang kondusif ini, menjadikan Yogyakarta bisa terus menjadi kota yang sejuk, aman dan nyaman dan mampu menjadi kota pendidikan serta kota budaya yang bernuansa edutainment city.

Yogyakarta dengan Law enforcement dapat menjadi kota yang bernafaskan ekowisata dengan masing-masing penghela aktifitas kehidupan tanpa terpisahkan. Mereka menjadi satu kesatuan yang kuat, solid dan kompak. Dinamika kehidupan yang solid ini membuat Yogyakarta dapat dengan mudah mengiplementasikan good and clean management yang dapat diwariskan kepada generasi penerusnya.

Kota Yogyakarta adalah warisan peradaban tinggi klasik, yang mempunyai prestise tinggi dikancah internasional. Yogyakarta adalah miniature Negara Republik Indonesia. Yogyakarta berhati nyaman adalah selogan yang bisa diinterpretasikan dengan memberi kebebasan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) dan seluruh warga yang tinggal di Jogja. Mereka semua mengemban tugas untuk menjaganya hingga menjadi kawasan yang sejuk, nyaman dan memberikan keamanan bagi seluruh masyarakat Yogyakarta maupun para wisatawan asing.

Segala potensi besar yang dimiliki Yogyakarta ini belum cukup untuk menghadapi gelombang pasang perluasan dan pertumbuhan fisik kota.  Yogyakarta membutuhkan suatu rencana untuk terus menciptakan iklim yang semakin kondusif. Dalam hal ini pemerintah memiliki pekerjeaan rumah yang cukup besar. Pekerjaan rumah ini berupa Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) yang mampu dijadikan master plan  arah pembangunan kota. Terciptanya tata ruang kota yang kondusif tentu akan sangat mendukung slogan Jogja Never Ending Asia. Pekerjaan rumah ini sangat penting karena dari waktu-kewaktu pertumbuhan dan perluasan fisik kota dan alih fungsi lahan produktif yang semakin tidak terkendali. Jaringan infrastruktur yang kurang memadai mengakibatkan inefisiensi pelayanan publik.

Oleh : Muhammad Muhlisin
Penulis Adalah Mahasiswa Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar