Yogyakarta adalah salah satu kota yang memiliki
nilai-nilai istimewa dibandingkan kota-kota lain di Republik Indonesia.
Semboyannya sebagai “kota berhati nyaman” telah terbukti dan diakui oleh
masyarakat luas. Pada tahun 2009 lalu Yogyakarta mendapatkan prestasi yang
membanggakan sebagai kota yang paling nyaman. Ikatan Ahli Perencanaan (IAP)
pada tahun 2009 pun juga menyatakan Yogyakarta sebagai kota ternyaman
dibandingkan dengan sebelas kota-kota besar lainnya.
Hasil penelitian IAP pada 2009 lalu menyatakan
bahwa kota yang terkenal dengan makanan khas gudeg ini adalah 65,34 (nilai
tertinggi 100 yakni sangat nyaman), di susul Manado 59,90, Makasar 56,52,
Bandung 56,37, Jayapuara 53,13, Surabaya 53,13, Banjarmasin 52, 61, Semarang
52,52, Medan 52,28, Palangkaraya 52,04, Jakarta 51,9 dan Pontianak 43,65. Hasil
indeks yang menggembirakan ini tidak lain karena adanya dukungan budaya
Yogyakarta yang mengikat dan selalu menjadi pegangan masyarakat.
Pegangan nilai budaya ini diiplementasikan dalam
setiap prilaku yang ramah, lemah lembut dan sopan. Nilai-nilai budaya ini pun
menjadi parameter dalam menjalankan roda kehidupan bermasyarakat. Selain nilai
budaya ini, geliat kehidupan kota yang lambat meskipun terus digerus oleh arus
globalisasi, Yogyakarta masih tetap bisa mempertahankan nilai-nilai budaya
Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Di sisi lain, banyaknya tempat-tempat pariwisata berbasis budaya lokal menjadi salah
satu andalan dalam menopang perekonomian masyarakat Yogya. Diantara
tempat-tempat pariwisata itu, Mailoboro mungkin yang paling terlihat eksis
dalam menemani para pengunjung baik lokal maupun regional. Selain sebagai basis
perekonomian bagi masyarakat Yogyakarta, Malioboro masih menyimpan banyak nilai
istimewa ketimbang tempat-tempat pariwisata lainnya. Di sampaing dikerumuni
oleh para budayawan, musisi dan seniman yang kreatif, Malioboro juga tempat
yang efektif untuk mengembangkan daya kreatifitas.
Meskipun hanya berbentuk deretan ruko sepanjanga
300 meter, Malioboro menyimpan berjuta makna. Makna yang bukan hanya bisa
dilihat dari aksi para pejalan kaki, orang-orang yang sekedar ngobrol sambil
minum kopi atau para pengunjung yang sedang belanja diswalayan, kecil, besar
atau mall. Tetapi, Malioboro juga sebagai tempat menjalin hubungan,
berkomunikasi dengan setiap orang yang datang kesana.
Malioboro tempo doeloe sebagai salah satu
kawasan mangkalnya para seniman, seperti WS, Rendra, Emha Aiunun Najib, dan
kawan-kawan sejawatnya, telah menjadi salah satu mahnet yang bisa menarik
ratusan hingga jutaan wisatawan, baik domestic maupun regional. Mereka juga
telah merangsang para seniman Jogja untuk mengembangkan kreasinya, terbukti
dengan semakin menjamurnya para pengrajin, batik, kaos, pernak-pernik yang
bercorak ke-Jogja-an.
Dari segi pendidikannya, tidak bisa diragukan
lagi Yogyakarta adalah gudangnya Universitas, yang kualitasnya sudah tidak bisa
diragukan lagi. Banyak jebolan-jebolannya yang sudah menjadi orang-orang besar
dan terbukti mampu bersaing dikancah internasional. Di Yogyakarta pula banyak
bersemi dan bermunculan insan-insan cerdas dan unggul.
Insan yang cerdas nan kreatif ini mungkin tak
akan tumbuh subur jika tidak ditopang dengan sebuah sistem yang amat kondusif.
Insan kreatif ini tentu mendapatkan tempatnya di Yogyakarta karena adanya Law
enforcement. Di mana Law
enforcement adalah sebuah bangunan sistem yang memberi suasana
kenyamanan dan keamanan. Dengan terbangunnya sistem yang kondusif ini,
menjadikan Yogyakarta bisa terus menjadi kota yang sejuk, aman dan nyaman dan mampu
menjadi kota pendidikan serta kota budaya yang bernuansa edutainment city.
Yogyakarta dengan Law
enforcement
dapat menjadi kota yang bernafaskan ekowisata dengan masing-masing penghela
aktifitas kehidupan tanpa terpisahkan. Mereka menjadi satu kesatuan yang kuat,
solid dan kompak. Dinamika kehidupan yang solid ini membuat Yogyakarta dapat
dengan mudah mengiplementasikan good and clean management yang dapat
diwariskan kepada generasi penerusnya.
Kota Yogyakarta adalah warisan peradaban tinggi
klasik, yang mempunyai prestise tinggi dikancah internasional. Yogyakarta
adalah miniature Negara Republik Indonesia. Yogyakarta berhati nyaman adalah
selogan yang bisa diinterpretasikan dengan memberi kebebasan kepada Pemerintah
Kota (Pemkot) dan seluruh warga yang tinggal di Jogja. Mereka semua mengemban
tugas untuk menjaganya hingga menjadi kawasan yang sejuk, nyaman dan memberikan
keamanan bagi seluruh masyarakat Yogyakarta maupun para wisatawan asing.
Segala potensi besar yang dimiliki Yogyakarta
ini belum cukup untuk menghadapi gelombang pasang perluasan dan pertumbuhan
fisik kota. Yogyakarta membutuhkan suatu
rencana untuk terus menciptakan iklim yang semakin kondusif. Dalam hal ini
pemerintah memiliki pekerjeaan rumah yang cukup besar. Pekerjaan rumah ini
berupa Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) yang mampu dijadikan master plan
arah pembangunan kota. Terciptanya tata ruang kota yang kondusif tentu akan
sangat mendukung slogan Jogja Never Ending Asia. Pekerjaan rumah ini
sangat penting karena dari waktu-kewaktu pertumbuhan dan perluasan fisik kota
dan alih fungsi lahan produktif yang semakin tidak terkendali. Jaringan infrastruktur
yang kurang memadai mengakibatkan inefisiensi pelayanan publik.
Oleh : Muhammad Muhlisin
Penulis
Adalah Mahasiswa Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar