Aksara adalah mercusuar
peradaban suatu bangsa. Salah satu aspek yang dapat menentukan tinggi rendahnya
kualitas sumber daya manusia (SDM) suatu
bangsa dapat diukur melalui tingkat keasaraan penduduknya. Untuk itu momentum Hari
Aksara Internasional (HAI) ke 47 yang telah diselenggarakan pada 8 September
2012 kemarin bagi Indonesia menjadi salah satu momen istimewa. Peringatan HAI
ini menjadi istimewa karena pada tahun ini merupakan akhir dekade keaksaraan
atau United Nations Literacy Decade
(UNLD).
Pada momentum UNLD ini setiap negara memberikan laporan
tentang pemberantasan buta aksara yang telah dilakukan. UNLD ini dirancang oleh
UNESCO dari tahun 2003-2012 sebagai upaya meningkatkan keberaksaraan bersekala
internasional. Memang Sejak 8 September
1964 United Nations Educational,
Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan 8 September
sebagai Hari Aksara Internasional. Penetapan ini bertujuan untuk mengingatkan
dunia tentang pentingnya budaya literasi.
Dalam konteks Indonesia budaya literasi ini penting untuk
dibangun, mengingat masih banyak masyarakat Indonesia yang buta huruf dan
minimnya minat baca masyarakat. Hal ini sebagaimana dikeluhkan oleh Taufiq
Ismail dan Suparto Brata dalam bukunya yang bertajuk Mengubah Takdir Lewat Budaya Baca dan Tulis (2012). Meraka secara
terang-terangan mengatakan sangat prihatin dengan budaya menonton TV yang telah
mengalahkan budaya membaca dilingkup pelajar Indonesia.
Budaya literasi dalam konteks kekinian terasa sangat
minim, hal ini karena selaian minimnya perpustakaan, taman baca masyarakat dan
kurang perhatiannya pemerintah terhadap minat baca masyarakat. Minimnya minat
baca masyarakat ini juga dipicu oleh
perkembangan budaya pop yang sejatinya bersifat instan. Pelajar lebih suka menonton TV atau bermain game ketimbang
membaca buku. Di ranah pendidikan minat
baca siswa belum banyak diperhatikan oleh instansi sekolah. Hal ini sangat
terasa di daerah perdesaan, banyak sekolah-sekolah yang tidak mempunyai
perpustakaan adapaun ada perpustakaan koleksi bukunya juga sangat minim.
Fenomena ini jelas sangat memprihatinkan, apalagi bila
budaya literasi menjadi ukuran kemajuan suatu bangsa, maka Indonesia masih
tertinggal jauh dengan negara-negara lain. Dalam kilas balik sejarah
bangsa-bangsa yang memiliki peradaban tinggi adalah bangsa yang mempunyai
tradisi literasi yang kuat. Hal ini bisa dilihat dari beberapa bangsa yang
memiliki tradisi literasi yang kuat hingga mencapai masa keemasan, dimulai zaman
Mesir Kuno, Babilonia, Dinasti China, Yunani Kuno hingga Jazirah Arab.
Berkaca pada masa kejayaan bangsa-bangsa tersebut, budaya
literasi harus dibangun sejak dini. Kebiasaan membaca sejak dini akan
memberikan pengaruh terhadap seseorang baik saat ini maupun yang akan datang. Memang
budaya lokal kita adalah budaya lisan bukan budaya membaca atau menulis. Ignas
Kleden menyebut budaya itu sebagai kelisanan primer (primary orality), di mana masyarakat kita pada waktu itu belum
mengenal baca-tulis. Namun, karena ingatan manusia terbatas, sehingga informasi
yang diserap tidak secara sempurna.
Revolusi literasi dengan ditemukannya mesin cetak
Guitenberg yang dimulai pada 1436, telah membawa arus baru bagi budaya literasi
di dunia internasional, meskipun budaya cetak baru memasuki Indonesia sekitar abad ke-20 an, yakni saat tradisi lisan masyarakat kita masih mengakar
kuat. Dengan masuknya budaya cetak ke Indonesia mendorong kemampuan masyarakat
untuk bersinggungan dengan baca-tulis. Sayangnya, meski sudah disadari akan
pentingnya budaya baca-tulis, tetap saja tingkat kedasaran baca-tulis
masyarakat kita masih rendah. Masyarakat kita lebih suka mendapatkan informasi
dari media elektronik, terutama televisi.
Kondisi masyarakat kita dewasa ini masih sebatas sebagai
“pembaca pasif” bukan “pembaca aktif,” yang menelan mentah-mentah segala
informasi yang disajikan oleh media elektronik. Kenyataan ini oleh Iqnas Kleden
disebut sebagai kelisanan sekunder (secondary
orality). Budaya kelisanan sekunder tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan
untuk membaca dan menulis dikesampingkan atau tidak terlalu dibutuhkan karena
informasi lebih bersifat audio-visual.
Budaya literasi kita yang masih rendah menjadi PR
(Pekerjaan Rumah) bagi pemerintah. Pemerintah dituntut untuk tidak hanya
memikirkan pembangunan infrastruktur saja, tetapi juga harus mampu membangun
budaya literasi dimasyarakat. Upaya untuk membangun budaya literasi ini bukan
hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh elemen
masyarakat. Sosialisasi secara serius dan kontinyu tetap harus dijalankan.
Perlu disadari, membaca dan menulis merupakan suatu tolak
ukur tinggi rendahnya SDM suatu negara. Budaya literasi telah banyak
menempatkan bangsa-bangsa pencintanya kearah yang tepat untuk maju, berkembang
dan menuju masa keemasan. Saat ini yang paling utama untuk disadari bahwa
budaya literasi merupakan salah satu faktor penentu kemajuan pendidikan dan
peradaban.
Oleh : Muh.Muhlisin
Penulis adalah Mahasiswa
Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar