Jejaring sosial kini bukan hal yang
tabu bagi setiap orang. Tua muapun muda bisa dengan mudah mengakses jejaring
sosial, baik lewat handphone maupun media elektronik lainnya yang tersambung
dengan jaringan internet. Jejaring sosial yang mudah diakses khalayak umum,
seperti Facebook, Twiter, Skype, friendter, yahoo mesenjer, blog dan
lain sebagainya memudahkan setiap orang untuk berkomunikasi dan
berinteraksi secara inten.
Perkembangan
jejaring sosial yang begitu pesat dengan berbagai fasilitas yang ditawarkan
oleh perusahaan penyedia layanan jejaring sosial tersebut telah dilirik bayak
orang. Saat ini jejaring sosial bukan hanya untuk menjalin komunikasi saja,
tetapi juga dimanfaatkan oleh banyak orang untuk keperluan bisnis maupun
menjaring solidaritas sosial. Bahkan, baru-baru ini, jejaring sosial juga
digunakan untuk keperluan politik.
Pemanfaatan
jejaring sosial untuk keperluan politik saat ini sudah mulai nampak. Lewat
jejaring sosial partai politik maupun tokoh politik ramai-ramai merebut simpati
rakyat untuk memperebutkan tahta tertinggi di Republik Indonesia yang akan
diselenggarakan pada tahun 2014 nanti. Umumnya partai politik maupun tokoh
politik yang diprediksi akan bersaing pada pemilu 2014 nanti menunjukkan
berbagai aspek positif dari kenerjanya selama ini.
Memang
pemanfaatan jejaring sosial untuk keperluan politik ini tidak dilakukan sendiri
oleh partai politik maupun tokoh politik yang akan bersaing pada pemilu 2014
nanti. Bisa jadi hal itu dilakukan oleh simpatisan dari partai politik maupun
orang-orang yang fanatic terhadap tokoh politik nasional yang akan bersaing
nanti. Tetapi, semua itu bisa diartikan bahwa jejaring sosial mempunyai peran
besar untuk merubah persepsi seseorang terhadap partai maupun tokoh politik.
Perjuangan
untuk merebut simpati rakayat di jejaring social ini pun tidak kalah sengintnya
bila dibandingkan dengan kampanye-kampanye konfensional yang dilakukan oleh
partai politik maupun tokoh politik ketika menjelang pemilu. Di jejaring social
partai politik maupun tokoh politik ramai-ramai untuk memperebutkan posisi
puncak dan menjadi trending topic. Untuk mendapatkan posisi tertinggi di
jejaring social, baik partai politik maupun tokoh politik tidak
tanggung-tanggung untuk membentuk tiem khusus yang menangani jejaring social
dan menyebarkan berbagai isu-isu positif terkait dengan dirinya.
Fenomena
pemanfaatan jejaring social untuk perluan politik ini semakin nampak ketika
salah satu lembaga surfei Politicawave melaporkan hasil surfeinya yang dihimpun
dari hasil percakapan di media social seperti Twitter, Facebook, You Tube,
Blog, pemberitaan media online dan forum online yang
diberitakan Kompas tanggal 22 november 2012 lalu. Politicawave pada berita
tersebut menyebutkan ada beberapa tokoh yang masuk di jejaring social dan
diprediksi akan bersaing pada pemilu 2014 nanti.
Tokoh-tokoh
tersebut antaralain, Mahfud MD, Prabowo Subianto, Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie,
Hatta Rajasa, Chairul Tanjung, Sri Mulyani dan Anies Baswdan. Pada laporan kali
ini posisi teratas masih ditempati oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD
dengan indek sentiment positif paling besar 20,81 persen yang dicatat dari 854
percakapan pengguna unik (unique usser). Prabowo Subianto menempati
posisi kedua dengan indek sentiment positif 15,08 persen yang dicatat dari
1.117 percakapan pengguna. Berdasarkan laporan dari Politicawave, nampaknya
jejaring social bisa menjadi andalan bagi partai politik maupun para calon
kandidat pilpres 2014 nanti untuk mengukuhkan eksitensinya. Jejaring social
bisa dimanfaatkan untuk melancarkan strategi politi untuk meraih suara
terbanyak pada pilpres 2014 nanti.(M/M)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar