Post Top Ad

Post Top Ad

Kamis, 21 Maret 2013

Budaya Memanusiakan Sastra


Salama ini dalam bidang sastra interdisipliner yang sudah ada, melulu hanya berkutat pada koridor sosiologi sastra dan psikologi sastra. Sedangankan kajian sastra secara antropologis seolah masih dipandang sebelah mata. Padahal, aspek paling dominan dalam sastra sebenarnya erat hubungannya dengan manusia. Di mana manusia adalah subyek tunggal sebagai creator dalam kebudayaan. Entah produk kebudayaan tersebut berbentuk fisik maupun kasat mata atau tak nampak (ide imajiner). 

Melalui buku Antropologi Sastra; Peranan Unsur-unsur Kebudayaan dalam Proses Kreatif, pembaca diajak untuk membedah secara lebih mendalam terkait organ-organ sastra yang merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari manusia. Dengan kata lain, inilah wujud bagaimana proses menyelami dan usaha manusia ‘memanusiakan’ sastra.

Secara epistimologi, antropoligi sastra merupakan gabungan atas dua kata, yaitu antropologi dan sastra. Akar kata antropologi sendiri merujuk pada bahasa Yunani anthropos + logos yang berarti ilmu tentang manusia, sedangkan sastra terdiri dari sas + tra, yang diartikan sebagai alat untuk mengajar (hal 6). Dapat diperoleh kesimpulan ilmu pengetahuan dalam konteks ini ialah karya sastra yang dianalisis berdasarkan kerangka berfikir antropologi.

Merebaknya monodisiplin keilmuan belakangan ini, telah menggelitik Nyoman Kutha Ratna untuk menggiring sastra yang selama ini hanya dikaji melalui mindset imaji, menuju narasi kebudayaan berskala besar. Titik tekannya terletak pada peranan unsur-unsur kebudayaan dalam membidani lahirnya proses kreatif manusia.

Dengan tegas penulis, dalam buku ini ingin membeberkan kenyataan bahwa sastra mempunyai dimensi monodisiplin keilmuan tersendiri. Tak hanya itu, Nyoman Kutha juga berusaha menyakinkan kepada pemabaca bahwa sastra adalah kebudayaan yang tidak sebatas imaji milik personal individu. Lebih spesifiknya, sastra merupakan ‘ujud’ dari keadaan manusia itu sendiri. 

Artefak, manuskrip dan sejenisnya adalah bukti real pengaruh sastra yang membentuknya. Kondisi demikian menunjukkan bagaimana budaya ikut terlibat secara penuh dalam proses kreatif manusia. Artinya, sastra mampu merepresentasikan dari hakikat budi dan daya yang menjadi cikal bakal lahirnya sebuah kebudayaan. Maka sangat ironis, jika sastra sengaja dihindarkan apalagi ditolak mentah-mentah dari kacamata antoprologi.

Judul Buku      : Antropologi Sastra: Peranan Unsur-unsur Kebudayaan dalam Proses Kreatif
Penulis             : Nyoman Kutha Ratna
Penerbit           : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan           : Desember 2011
Tebal               : v + 530 Halaman
Peresensi         : M. Romandhon MK*(*Pegiat Budaya, tinggal di Yogyakarta)
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar