Salama ini dalam
bidang sastra interdisipliner yang sudah ada, melulu hanya berkutat pada
koridor sosiologi sastra dan psikologi sastra. Sedangankan kajian sastra secara
antropologis seolah masih dipandang sebelah mata. Padahal, aspek paling dominan
dalam sastra sebenarnya erat hubungannya dengan manusia. Di mana manusia adalah
subyek tunggal sebagai creator dalam
kebudayaan. Entah produk kebudayaan tersebut berbentuk fisik maupun kasat mata
atau tak nampak (ide imajiner).
Melalui buku Antropologi Sastra; Peranan Unsur-unsur
Kebudayaan dalam Proses Kreatif, pembaca diajak untuk membedah secara lebih
mendalam terkait organ-organ sastra yang merupakan bagian yang tidak bisa
dipisahkan dari manusia. Dengan kata lain, inilah wujud bagaimana proses
menyelami dan usaha manusia ‘memanusiakan’ sastra.
Secara epistimologi,
antropoligi sastra merupakan gabungan atas dua kata, yaitu antropologi dan
sastra. Akar kata antropologi sendiri merujuk pada bahasa Yunani anthropos + logos yang berarti ilmu tentang manusia, sedangkan sastra terdiri
dari sas + tra, yang diartikan sebagai alat untuk mengajar (hal 6). Dapat
diperoleh kesimpulan ilmu pengetahuan dalam konteks ini ialah karya sastra yang
dianalisis berdasarkan kerangka berfikir antropologi.
Merebaknya
monodisiplin keilmuan belakangan ini, telah menggelitik Nyoman Kutha Ratna
untuk menggiring sastra yang selama ini hanya dikaji melalui mindset imaji, menuju narasi kebudayaan
berskala besar. Titik tekannya terletak pada peranan unsur-unsur kebudayaan
dalam membidani lahirnya proses kreatif manusia.
Dengan tegas
penulis, dalam buku ini ingin membeberkan kenyataan bahwa sastra mempunyai
dimensi monodisiplin keilmuan tersendiri. Tak hanya itu, Nyoman Kutha juga
berusaha menyakinkan kepada pemabaca bahwa sastra adalah kebudayaan yang tidak
sebatas imaji milik personal individu. Lebih spesifiknya, sastra merupakan
‘ujud’ dari keadaan manusia itu sendiri.
Artefak, manuskrip dan
sejenisnya adalah bukti real pengaruh
sastra yang membentuknya. Kondisi demikian menunjukkan bagaimana budaya ikut
terlibat secara penuh dalam proses kreatif manusia. Artinya, sastra mampu merepresentasikan
dari hakikat budi dan daya yang menjadi cikal bakal lahirnya
sebuah kebudayaan. Maka sangat ironis, jika sastra sengaja dihindarkan apalagi
ditolak mentah-mentah dari kacamata antoprologi.
Penulis : Nyoman Kutha Ratna
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Desember 2011
Tebal : v + 530 Halaman
Peresensi : M. Romandhon MK*(*Pegiat
Budaya, tinggal di Yogyakarta)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar