Proses maju dan mundurnya suatu budaya tidak terlepas dari adanya dialektika antara ketegangan dan kegelisahan, antara penemuan dan pencarian dan antara integrasi dan disentegrasi. Tanpa adanya tradisi dan ingtegrasi kebudayaan akan kehilangan identitas dan tanpa adanya disentegrasi kebudayaan akan kehilangan taring untuk berkembang, memperbaharui diri, menyeseuaikan diri sesuai dengan perubahan sosial (social change corecion) yang ada dilingkungannya.
Kebudayaan adalah ciri khas manusia, baik itu berhubungan dengan keindahan, kebaikan maupun keluhuran. Kebudayaan merupakan warisan yang diwariskan secara turun-temurun tapa surat wasiat. Tetapi jauh daripada itu, kebudayaan adalah realitas obyektif di mana setiap kelompok sosial akan mempersepsikannya dan kemudian mempertegasnya hingga menjadi identitas suatu kelompok.
Identitas budaya (cultur identity) merupakan kekuatan integral dari bangsa yang plural, yang harus disatukan dalam satu kesatuan yaitu budaya nasional. Tetapi budaya nasional itu sekarang mengalami kegalauan dengan maraknya budaya global yang semakin gencar melakukan hegemoni budaya dan semakin meminggirkan budaya nasional. Hampir setiap lini kehiduapan kita saat ini dicekoki dengan berbagai produk budaya global atau yang dikenal dengan sebutan budaya pop (pop cultur), sehingga mau tidak mau, baik muda maupun tua harus mengkuti arus budaya tersebut.
Budaya pop yang mengandalkan kenikmatan sesaat, glamor dan memanjakan menjadi sangat mudah diserap oleh masyarakat. Wal hasil, budaya nasional kita pun lambat namun pasti semakin terpinggirkan di tengah-tengah masyarakat kita. Dikhawatirkan, moral, etika dan estetika bangsa ini akan runtuh sebagai dampak dan pengaruh budaya global yang bergerak tanpa batas. Dalam pada itu, kebudayaan nasional yang diperjuangkan tidak kunjung ditemukan dan tidak dapat dijelaskan posisinya diantara kebudayaan lokal. Gejala ini bisa dilihat dengan berbagai lifestyle anak-anak muda sekarang yang cenderung kebarat-baratan bahkan akhir-akhir ini lifestyle gaya Korea semakin marak menjangkiti generasi muda. Sehingga generasi muda kita tercerabut dari akarnya bahwa dirinya adalah generasi bangsa yang seharusnya mengukuhkan jati diri daripada budaya nasional Indonesia.
Fenomena tersebut pada dasarnya sudah mendapat sindiran dari ritus budaya yang dikembangkan oleh masyarakat adat Indonesia. Salah satu sindiran itu sangat nampak dalam bentuk topeng yang ada dalam Pesta Sakura. Pesta ini menggunakan topeng sebagai salah satu media untuk mengekspresikan diri maupun menutupi identitas siapa dirinya yang sebenarnya.
Meskipun pada awalnya topeng merupakan salah satu cara manusia zaman purba untuk mempersonifikasikan antara dirinya dengan kekuatan yang ada diluar diri manusia. Topeng atau kedok dalam konteks kekinian bisa diartikan sebagai suatu sindirian di mana budaya kita saat ini penuh dengan kepurapuraan. Sebagaimana hal ini disindir pemeran Tari Topeng Sakuran.
Topeng Sakuran ini dilihat dari segi penokohannya terdiri dari sakuara anak, tuha, kesatria, cacat, raksasa dan binatang. Topeng ini dalam pementasannya dibagi menjadi dua jenis sesuai dengan sifat dan juga sebagai penutup identutas masing-masing pemain. Pertama, sakura kecah atau sering disebut sakura batik dan sakura helau mempersentasikan watak baik. Kedua, sakura kemak yang mempersentasikan watak buruk atau jahat.
Sesui dengan wataknya masing-masing, sakura kecah menggunkan kostum yang bersih dan rapi dengan berpenampilan sesederhana mungkin. Sedangkang sakura kamak berpenampilan seolah-olah seperti perampok, suka mengganggu dan setiap singgah dirumah warga, maka tuan rumah wajib menyediakan apa yang diminta oleh sakura kamak.
Melihat topeng sekura sesungguhnya kita dituntut untuk mencermati setiap ciri dan watak, karakter dan indentitas. Sebagaimana hal itu bisa kita lihat dalam tradisi tahunan masyarakat Lampung. Dinamakan Pesta Sakura, yakni pesta yang setiap pesertanya mengenakan aneka topeng dan atribut. Topeng yang digunakan menggambarkan berbagai mimik wajah, baik sedih, marah, senyum dan tawa. Akan tetapi sesungguhnya jenis topeng Lampung ada dua jenis, tupping dan sekura.
Tupping berkembang di daerah Lampung Selatan seperti masyarakat Kuripan, Canti, dan Kasugihan. Sedangkan sekura terdapat diwilayah Lampung Barat seperti, Belalau, Balik, Bukit, Batubrak, Sukau, Kenali dan Liwa. Topeng sekura yang ditampilkan dalam pesta sakura belangsung selama satu minggu. Pesta ini merupakan pesta rakyat yang diselenggarakan sebagai ungkapan rasa sukur, suka cita dan renungan terhadap sikap dan tingkah laku.
Sebagai bahan perbandingan terhadap pesta ini penulis mengambil ilustrasi dari “Film Persona”, yang mengisahkan bagaimana pengaruh negatif topeng bagi kaum remaja di Jepang. Di gambarkan dalam film bahwa anak-anak muda menggunakan topeng untuk menutupi segala kenakalannya serta masalah yang dialaminya dalam keluarga. Ketika penggunaan topeng dilarang di sekolah, para siswa yang menggenakan topeng melakukan bunuh diri. Bunuh diri ini dilakukan karena eksitensi mereka tidak diberi ruang gerak dan tidak diakui oleh pihak sekolah dan murid-murid yang lain. film ini berakhir dengan keberhasilan seorang gadis bernama Yukei untuk membongkar siapa pembuat topeng dan maksud penggunanya.
Dalam hal ini manusia sebagai sebuah “persona” yang sekarang kata ini bahkan lebih banyak digunakan daripada kata “individu”. Secara etimologi kata “persona” beralasal dari bahasa Yunani, yang artinya adalah topeng. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya. “persona” tidak lagi dimengerti sebagai sebuah topeng, melainkan kualitas-kualitas pribadi yang ada dalam diri seseorang. Dengan demikian, arti “persona” tidak lagi menunjuk pada topeng, melainkan pada makna yang ada dibelakangnya yaitu jati diri atau identitas.
Oleh : Muh.Muhlisin
Kebudayaan adalah ciri khas manusia, baik itu berhubungan dengan keindahan, kebaikan maupun keluhuran. Kebudayaan merupakan warisan yang diwariskan secara turun-temurun tapa surat wasiat. Tetapi jauh daripada itu, kebudayaan adalah realitas obyektif di mana setiap kelompok sosial akan mempersepsikannya dan kemudian mempertegasnya hingga menjadi identitas suatu kelompok.
Identitas budaya (cultur identity) merupakan kekuatan integral dari bangsa yang plural, yang harus disatukan dalam satu kesatuan yaitu budaya nasional. Tetapi budaya nasional itu sekarang mengalami kegalauan dengan maraknya budaya global yang semakin gencar melakukan hegemoni budaya dan semakin meminggirkan budaya nasional. Hampir setiap lini kehiduapan kita saat ini dicekoki dengan berbagai produk budaya global atau yang dikenal dengan sebutan budaya pop (pop cultur), sehingga mau tidak mau, baik muda maupun tua harus mengkuti arus budaya tersebut.
Budaya pop yang mengandalkan kenikmatan sesaat, glamor dan memanjakan menjadi sangat mudah diserap oleh masyarakat. Wal hasil, budaya nasional kita pun lambat namun pasti semakin terpinggirkan di tengah-tengah masyarakat kita. Dikhawatirkan, moral, etika dan estetika bangsa ini akan runtuh sebagai dampak dan pengaruh budaya global yang bergerak tanpa batas. Dalam pada itu, kebudayaan nasional yang diperjuangkan tidak kunjung ditemukan dan tidak dapat dijelaskan posisinya diantara kebudayaan lokal. Gejala ini bisa dilihat dengan berbagai lifestyle anak-anak muda sekarang yang cenderung kebarat-baratan bahkan akhir-akhir ini lifestyle gaya Korea semakin marak menjangkiti generasi muda. Sehingga generasi muda kita tercerabut dari akarnya bahwa dirinya adalah generasi bangsa yang seharusnya mengukuhkan jati diri daripada budaya nasional Indonesia.
Fenomena tersebut pada dasarnya sudah mendapat sindiran dari ritus budaya yang dikembangkan oleh masyarakat adat Indonesia. Salah satu sindiran itu sangat nampak dalam bentuk topeng yang ada dalam Pesta Sakura. Pesta ini menggunakan topeng sebagai salah satu media untuk mengekspresikan diri maupun menutupi identitas siapa dirinya yang sebenarnya.
Meskipun pada awalnya topeng merupakan salah satu cara manusia zaman purba untuk mempersonifikasikan antara dirinya dengan kekuatan yang ada diluar diri manusia. Topeng atau kedok dalam konteks kekinian bisa diartikan sebagai suatu sindirian di mana budaya kita saat ini penuh dengan kepurapuraan. Sebagaimana hal ini disindir pemeran Tari Topeng Sakuran.
Topeng Sakuran ini dilihat dari segi penokohannya terdiri dari sakuara anak, tuha, kesatria, cacat, raksasa dan binatang. Topeng ini dalam pementasannya dibagi menjadi dua jenis sesuai dengan sifat dan juga sebagai penutup identutas masing-masing pemain. Pertama, sakura kecah atau sering disebut sakura batik dan sakura helau mempersentasikan watak baik. Kedua, sakura kemak yang mempersentasikan watak buruk atau jahat.
Sesui dengan wataknya masing-masing, sakura kecah menggunkan kostum yang bersih dan rapi dengan berpenampilan sesederhana mungkin. Sedangkang sakura kamak berpenampilan seolah-olah seperti perampok, suka mengganggu dan setiap singgah dirumah warga, maka tuan rumah wajib menyediakan apa yang diminta oleh sakura kamak.
Melihat topeng sekura sesungguhnya kita dituntut untuk mencermati setiap ciri dan watak, karakter dan indentitas. Sebagaimana hal itu bisa kita lihat dalam tradisi tahunan masyarakat Lampung. Dinamakan Pesta Sakura, yakni pesta yang setiap pesertanya mengenakan aneka topeng dan atribut. Topeng yang digunakan menggambarkan berbagai mimik wajah, baik sedih, marah, senyum dan tawa. Akan tetapi sesungguhnya jenis topeng Lampung ada dua jenis, tupping dan sekura.
Tupping berkembang di daerah Lampung Selatan seperti masyarakat Kuripan, Canti, dan Kasugihan. Sedangkan sekura terdapat diwilayah Lampung Barat seperti, Belalau, Balik, Bukit, Batubrak, Sukau, Kenali dan Liwa. Topeng sekura yang ditampilkan dalam pesta sakura belangsung selama satu minggu. Pesta ini merupakan pesta rakyat yang diselenggarakan sebagai ungkapan rasa sukur, suka cita dan renungan terhadap sikap dan tingkah laku.
Sebagai bahan perbandingan terhadap pesta ini penulis mengambil ilustrasi dari “Film Persona”, yang mengisahkan bagaimana pengaruh negatif topeng bagi kaum remaja di Jepang. Di gambarkan dalam film bahwa anak-anak muda menggunakan topeng untuk menutupi segala kenakalannya serta masalah yang dialaminya dalam keluarga. Ketika penggunaan topeng dilarang di sekolah, para siswa yang menggenakan topeng melakukan bunuh diri. Bunuh diri ini dilakukan karena eksitensi mereka tidak diberi ruang gerak dan tidak diakui oleh pihak sekolah dan murid-murid yang lain. film ini berakhir dengan keberhasilan seorang gadis bernama Yukei untuk membongkar siapa pembuat topeng dan maksud penggunanya.
Dalam hal ini manusia sebagai sebuah “persona” yang sekarang kata ini bahkan lebih banyak digunakan daripada kata “individu”. Secara etimologi kata “persona” beralasal dari bahasa Yunani, yang artinya adalah topeng. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya. “persona” tidak lagi dimengerti sebagai sebuah topeng, melainkan kualitas-kualitas pribadi yang ada dalam diri seseorang. Dengan demikian, arti “persona” tidak lagi menunjuk pada topeng, melainkan pada makna yang ada dibelakangnya yaitu jati diri atau identitas.
Oleh : Muh.Muhlisin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar