Sri Sultan Hamengku Buwono IX merupakan sosok fenomenal bangsawan kraton yang demokratis. Sri Sultan HB IX adalah pokok dan pemberi inspirasi sebagai pejuang kemerdekaan yang siap berada digarda depan melawan penjajah serta sosok pembawa perubahan bagi pergulatan politik nasional. Keputusan Sri Sultan HB IX untuk menggabungkan diri dan turut mendukung pemerintahan Republik Indonesia (RI) merupakan tonggak sejarah yang tidak pernah terlupakan.
Wawasan kebangsaan yang dimiliki Sri Sultan HB IX adalah percikan renungan yang bisa dijadikan pembuka antusiasme kebangsaan dan kesadaran nasional. Wawasan kebangsaan ini dintunjukkan oleh Sri Sultan HB IX dengan sikap terbuka ketika ibu kota RI hendak dipindahkan ke Yogyakarta. Begitu juga ketika ibu kota RI diduduki penjajah, ia mengambil inisiatif yang dapat membahayakan dirinya. Perjuangan untuk mempertahankan eksitensi Indonesia dalam percaturan politik dunia dibuktikan dengan kejeniusan memukul mundur pasukan militer Belanda di tanah Yogyakarta pada Serangan Umum 1 Maret 1949.
Sri Sultan HB IX walaupun banyak menganyam pendidikan Belanda tetapi berbagai pemikirannya ternyata tidak melulu mengacu pada konstruksi pemikiran Barat untuk menjelaskan berbagai perkara di negeri ini. Pendidikan Belanda tidak sanggup melunturkan pemahaman Sri Sultan HB IX atas hikmah dalam ajaran-ajaran Jawa. Biografi kultural Jawa justru semakin mengental dan menjadi ladang renungan mengenai masalah kenegaraan.
Perenungan atas ajaran Jawa itu memiliki jejak panjang dari intensitas hidup dalam latar kultural Jawa. Dalam pidato penobatannya sebagi Sri Sultan HB IX intensitas hidup sebagai orang Jawa itu diungkapkannya dengan mangatakan ; “walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, namun pertama-tema saya adalah dan tetap adalah orang Jawa.” Sedangkan sikapnya sebagai bangsawan kraton yang memiliki wawasan kebangsaan tinggi terlihat dengan pernyataannya ; “ijinkan saya mengakhiri pidato saya ini dengan berjanji, semoga saya bisa bekerja untuk memenuhi kepentingan nusa dan bangsa, sebatas kemampuan dan pengetahuan yang ada pada saya.”
Penryataan itu dibuktikannya dengan menjadi pejabat penting di Republik Indonesia ini. Secara berturut-turut dalam percaturan Sri Sultan HB IX menempati posisi penting di pemerintahan. Karir pertamanya dimulai sebagai Kepala dan Gubernur Militer Daerah Istimewa Yogyakarta (1945), Menteri Negara pada Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 - 27 Juni 1947), Menteri Negara pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II (3 Juli 1947 - 11 November 1947 dan 11 November 1947 - 28 Januari 1948), Menteri Negara pada Kabinet Hatta I (29 Januari 1948 - 4 Agustus 1949), Menteri Pertahanan/Koordinator Keamanan Dalam Negeri pada Kabinet Hatta II (4 Agustus 1949 - 20 Desember 1949), Menteri Pertahanan pada masa RIS (20 Desember 1949 - 6 September 1950), Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Natsir (6 September 1950 - 27 April 1951), Ketua Federasi ASEAN Games (1958), Menteri/Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (5 Juli 1959), Menteri Koordinator Pembangunan (21 Februari 1966), Wakil Perdana Menteri Bidang Ekonomi 11 (Maret 1966), dan Wakil Presiden Indonesia (25 Maret 1973 - 23 Maret 1978).
Sri Sultan HB IX yang terlahir pada 12 April 1912 dengan nama Bendoro Raden Mas Dorojatun selama kepemimpinannya dalam percaturan politik nasional mengacu pada ajaran Jawa. Ajaran Jawa berupa kualitas seorang pemimpin harus disempurnakan dengan mengamalkan Dasa Paramita (10 kesempurnaan laku) yang tercermin dalam watak patriotisme Sang Amurwabumi. Watak tersebut mengharuskan seorang pemimpin setia pada janji, berwatak tabah, kokoh, toleran dan selalu berbuat baik.
Ajaran Sang Amurwabumi adalah dasar pijakan yang mengacu pada ajaran Hats Karma Pratama (8 Ajaran Kebenaran). Secara garis besar ajaran ini menekankan bahwa dalam kepemimpinan, kelestarian turun (suksesi, generasi) harus bisa menjaga nama baik leluhur dan bukan semata-mata soal generasi yang terbaik melainkan harus diikuti dengan prestasi. Nilai-nilai dasar dari ajaran Sang Amurwabumi yang telah diiplementasikan Sri Sultan HB IX adalah dasar politik yang sangat penting digunakan pada kondisi transisi dari negara terjajah ke negara merdeka. Selain itu ajaran Sang Amurwabumi ini juga pantas diuraikan dalam percaturan politik nasional ketika progresivitas peradaban politik saat ini semakin suram, tak tentu arah dan tujuan. Nilai-nilai dasar dari Ajaran Sang Amurwabumi merupakan bagian dari bahan baku yang digunakan sebagai salah satu sumber acuan nilai-nilai pendidikan karakter bangsa.
Ajaran Sang Amurwahbumi tersebut membimbing Sri Sultan HB IX tidak luluh dalam pikat percaturan politik yang pelik, tetapi justru membawa arus baru perubahan politik. Kearifan lokal menjadi modal kepemilikan identitas dalam pergulatan politik nasional. Sri Sultan HB IX turut serta menyemaikan hikmah Jawa dalam lembaran lika-liku kehidupan politik agar lebih arif dan bijaksana. Untuk itu momentum satu abad Sri Sultan HB IX ini pantas kita jadikan suatu bahan refleksi.
Kesadaran Sri Sultan HB IX atas hikmah Jawa menjadi identitas kultural dalam menghadapi tanda-tanda zaman yang mengusung perubahan atas nama modernisasi dan globalisasi. Kesadaran ini membuat Sri Sultan HB IX merupakan sosok teladan dalam mengafirmasi hikmah Jawa secara konstruktif dan produktif. Hikmah Jawa yang diiplementasikan Sri Sultan HB IX adalah dasar pengembalian diri dalam menjalai kehidupan dan dapat kita jadikan bahan refleksi pemikiran dan prilaku.
Oleh : Muh. Muhlisin
Wawasan kebangsaan yang dimiliki Sri Sultan HB IX adalah percikan renungan yang bisa dijadikan pembuka antusiasme kebangsaan dan kesadaran nasional. Wawasan kebangsaan ini dintunjukkan oleh Sri Sultan HB IX dengan sikap terbuka ketika ibu kota RI hendak dipindahkan ke Yogyakarta. Begitu juga ketika ibu kota RI diduduki penjajah, ia mengambil inisiatif yang dapat membahayakan dirinya. Perjuangan untuk mempertahankan eksitensi Indonesia dalam percaturan politik dunia dibuktikan dengan kejeniusan memukul mundur pasukan militer Belanda di tanah Yogyakarta pada Serangan Umum 1 Maret 1949.
Sri Sultan HB IX walaupun banyak menganyam pendidikan Belanda tetapi berbagai pemikirannya ternyata tidak melulu mengacu pada konstruksi pemikiran Barat untuk menjelaskan berbagai perkara di negeri ini. Pendidikan Belanda tidak sanggup melunturkan pemahaman Sri Sultan HB IX atas hikmah dalam ajaran-ajaran Jawa. Biografi kultural Jawa justru semakin mengental dan menjadi ladang renungan mengenai masalah kenegaraan.
Perenungan atas ajaran Jawa itu memiliki jejak panjang dari intensitas hidup dalam latar kultural Jawa. Dalam pidato penobatannya sebagi Sri Sultan HB IX intensitas hidup sebagai orang Jawa itu diungkapkannya dengan mangatakan ; “walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, namun pertama-tema saya adalah dan tetap adalah orang Jawa.” Sedangkan sikapnya sebagai bangsawan kraton yang memiliki wawasan kebangsaan tinggi terlihat dengan pernyataannya ; “ijinkan saya mengakhiri pidato saya ini dengan berjanji, semoga saya bisa bekerja untuk memenuhi kepentingan nusa dan bangsa, sebatas kemampuan dan pengetahuan yang ada pada saya.”
Penryataan itu dibuktikannya dengan menjadi pejabat penting di Republik Indonesia ini. Secara berturut-turut dalam percaturan Sri Sultan HB IX menempati posisi penting di pemerintahan. Karir pertamanya dimulai sebagai Kepala dan Gubernur Militer Daerah Istimewa Yogyakarta (1945), Menteri Negara pada Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 - 27 Juni 1947), Menteri Negara pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II (3 Juli 1947 - 11 November 1947 dan 11 November 1947 - 28 Januari 1948), Menteri Negara pada Kabinet Hatta I (29 Januari 1948 - 4 Agustus 1949), Menteri Pertahanan/Koordinator Keamanan Dalam Negeri pada Kabinet Hatta II (4 Agustus 1949 - 20 Desember 1949), Menteri Pertahanan pada masa RIS (20 Desember 1949 - 6 September 1950), Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Natsir (6 September 1950 - 27 April 1951), Ketua Federasi ASEAN Games (1958), Menteri/Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (5 Juli 1959), Menteri Koordinator Pembangunan (21 Februari 1966), Wakil Perdana Menteri Bidang Ekonomi 11 (Maret 1966), dan Wakil Presiden Indonesia (25 Maret 1973 - 23 Maret 1978).
Sri Sultan HB IX yang terlahir pada 12 April 1912 dengan nama Bendoro Raden Mas Dorojatun selama kepemimpinannya dalam percaturan politik nasional mengacu pada ajaran Jawa. Ajaran Jawa berupa kualitas seorang pemimpin harus disempurnakan dengan mengamalkan Dasa Paramita (10 kesempurnaan laku) yang tercermin dalam watak patriotisme Sang Amurwabumi. Watak tersebut mengharuskan seorang pemimpin setia pada janji, berwatak tabah, kokoh, toleran dan selalu berbuat baik.
Ajaran Sang Amurwabumi adalah dasar pijakan yang mengacu pada ajaran Hats Karma Pratama (8 Ajaran Kebenaran). Secara garis besar ajaran ini menekankan bahwa dalam kepemimpinan, kelestarian turun (suksesi, generasi) harus bisa menjaga nama baik leluhur dan bukan semata-mata soal generasi yang terbaik melainkan harus diikuti dengan prestasi. Nilai-nilai dasar dari ajaran Sang Amurwabumi yang telah diiplementasikan Sri Sultan HB IX adalah dasar politik yang sangat penting digunakan pada kondisi transisi dari negara terjajah ke negara merdeka. Selain itu ajaran Sang Amurwabumi ini juga pantas diuraikan dalam percaturan politik nasional ketika progresivitas peradaban politik saat ini semakin suram, tak tentu arah dan tujuan. Nilai-nilai dasar dari Ajaran Sang Amurwabumi merupakan bagian dari bahan baku yang digunakan sebagai salah satu sumber acuan nilai-nilai pendidikan karakter bangsa.
Ajaran Sang Amurwahbumi tersebut membimbing Sri Sultan HB IX tidak luluh dalam pikat percaturan politik yang pelik, tetapi justru membawa arus baru perubahan politik. Kearifan lokal menjadi modal kepemilikan identitas dalam pergulatan politik nasional. Sri Sultan HB IX turut serta menyemaikan hikmah Jawa dalam lembaran lika-liku kehidupan politik agar lebih arif dan bijaksana. Untuk itu momentum satu abad Sri Sultan HB IX ini pantas kita jadikan suatu bahan refleksi.
Kesadaran Sri Sultan HB IX atas hikmah Jawa menjadi identitas kultural dalam menghadapi tanda-tanda zaman yang mengusung perubahan atas nama modernisasi dan globalisasi. Kesadaran ini membuat Sri Sultan HB IX merupakan sosok teladan dalam mengafirmasi hikmah Jawa secara konstruktif dan produktif. Hikmah Jawa yang diiplementasikan Sri Sultan HB IX adalah dasar pengembalian diri dalam menjalai kehidupan dan dapat kita jadikan bahan refleksi pemikiran dan prilaku.
Oleh : Muh. Muhlisin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar